Rabu, 23 Juli 2014

Mulai Berceloteh

'Ngopi oleh pahala yo ngene iki'. Celetukan salah seorang pemuda disampingku. Hahahaha.... Kalian mungkin bertanya. Celetukan tadi keluar dari cocot salah satu pengunjung warung kopi. Terus, apa yang jadi dasar celetukannya? Jadi, disini merupakan salah satu tempat ngopi di kota ini. Bukan kafe elit, bahkan jauh dari kata mewah. Ini cuma halaman parkir stasiun radio di kotaku. Aneh, mungkin buat kalian yang belum pernah kesini. Kalau main ke Jember coba mampir kesini. Prosalina. Ya, seperti yang kubilang tadi halaman parkir radio ini setiap malam disulap jadi tongkrongannya pemuda-pemudi.

Nah, kembali ke ngopi yang berpahala. Kok, bisa ngopi berpahala? Sepintas kemudian aku baru ngeh. Di stasiun radio ini tiap malam di bulan ramadhan ini dijadikan medan laga buat umat-umat yang getol baca ayat-ayat suci milik-Nya. Lomba Tilawatil Qur'an. Ya...ya... bener juga soal 'ngopi berpahala' tadi. Kalau ndak salah (berarti bener cuk), mendengar orang baca Qur'an saja sudah berpahala, apalagi baca. He.. he.. he.. he.. aku ndak nyuruh kalian baca Qur'an lho, masalah itu sih kembali ke pribadi masing-masing wae. Kalo sedikit dibahas, enak juga kalo tiap nyangkruk ngopi terus didendangkan ayat Tuhan macam begini. Mungkin, bisa jadi pahala kita sedikit-sedikit bakal bertambah. Hwa.. hwa.. ha.. ha..



Menggok sedikit. Dua kanca di depanku lagi asik ngrasani capres-cawapres. Asyuu!!! media begitu gila sepertinya menyihir penikmatnya. Korbannya ya sohib-sohib di depan hidung saya ini. Gak salah sih pemuda-pemudi pada sering ngompol (Ngobrol Politik) akhir-akhir ini. Malah, baguslah berarti mereka ya ndak sekedar mbulet masalah kuliah-tugas-seminar, dan tugas akhir. Se-enggak-nya mereka masih sedikit aware-lah sama tempat dimana mereka cari makan dan berbuat macem-macem selama ini.

Terus, sakjane tulisan iki cerito opo?  Tak perlulah kalian pikir terlalu dalam. Aku pikir ini merupakan awal, salah satu usahaku supaya tak hilang dipecundangi zaman. Toh, jangan lupa simbah pram juga pernah dhawuh begini: '... dan bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan'. Ya begitulah, tak perlu dipikir dalam-dalam toh ini cuma diary kecil. Selamat buat pak Joko yang akhirnya kepilih jadi orang nomer satu di negara ini. Kalau kanca-kanca apes kesasar disini, aku cuma bisa bilang selamat menikmati, meski ini bukan berkatan tahlilan. Satu lagi, nyomot gaya simbah dalang edan Sudjiwo Tejo, Maturnuwun cuk!! Hwe..he..he..he..

Jember, 22 Juli 2014

2 komentar:

  1. terus berkarya mas. apalah, semuanya akan jadi kenangan indah nantinya.
    simbah pram juga mengutip ini dalam novelnya mas "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. (Minke, 352)
    bener kan? semangat nulisnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, ya itu salah satu yang masih jadi alasan kenapa aku harus nulis..

      AKU NDAK MAU HILANG DIPECUNDANGI ZAMAN

      Makasih kunjungannya ya Dewi Sawitri..

      Hapus