Minggu, 01 Maret 2015

Semut-semut Kecil

Bernafaslah nak, selagi bisa. Bernafaslah selagi pohon-pohon disini belum tumbang karena perkasanya mesin dari Negara-negara maju itu. Hirup nak, hirup yang puas udara yang masih perawan ini sebelum karbon dari cerobong dan pantat-pantat kendaraan mencekik kerongkonganmu. Berpetualang dan jejakkan kaki mungilmu diatas tanah lembab dan guguran daun ini nak, selagi ia belum menjelma aspal yang panas dan beton keras. Sebab nanti kaki kecilmu akan terluka. Basuhlah wajahmu sekaligus ceburkan dirimu di sungai yang jernih itu nak. Berenang dan menarilahlah bersama ikan-ikan disitu nak, sebab tak lama lagi air sungai itu akan keruh digantikan limbah, sampah, dan segala kotoran dari tangan-tangan yang tak bertanggungjawab. Mari sini nak. Pandanglah segera langit biru diatas sana. Lihat betapa gembiranya awan berarak menggoda didepan gagahnya si-langit biru. Sebab itu tak akan lama karna asap-asap pabrik para konglomerat itu akan menggantinya dengan abu-abu dan hitam.

Ah, kenapa kau menangis nak? Janganlah bersedih. Busungkan dadamu kuatkan hatimu karena inilah dunia, nak. Segala busuk dan rusak ini karena mahluk yang bernama ‘manusia’. Iya, nak ma-nu-sia. Mahluk yang bangga akan derajat dan pikirannya.


Tapi, katanya ada yang berjuang mempertahankan kelangsungan bumi ini? Bukankah mereka juga ma-nu-sia? Bukan nak, itu hanya dongeng belaka. Mereka yang katanya berjuang demi alam ini hanya bualan, sebab mereka lebih butuh uang daripada pepohonan. Mereka lebih sayang emas ketimbang air bersih yang jelas-jelas mereka butuhkan.


Lalu, secara tiba-tiba mereka mati. Mati di tanah mereka sendiri. Mati karena terinjak sepatu seorang petualang yang katanya mencintai alam.

0 komentar:

Posting Komentar