Senin, 03 Agustus 2015

Mimpi Itu Tak Wajib (Memang)

Mimpi memang tak wajib, cuk. Sebab itu aku menyarankan untuk segera saja kau rampungkan itu skrip(sweet). Kalaulah kamu menolak tak jadi soal. Tapi, jangan terlalu lama juga mimpinya (apalagi sampai basah). Mimpilah sejenak, lalu mikir. Nah, sepertinya kamu mulai protes lagi. Yo ndak cuma mimpi dan mikir saja. Rumangsamu arep onani. Setidaknya rehat sejenak, ambil nafas, terus mikiro. Kamu sudah lama juga kan jadi mahasiswa, apalagi sekarang tinggal satu tugas saja yang harus kau rampungkan. Ya segera selesaikan!. Sampai disini pasti kau mulai mencak-mencak. Menganggap ini sebuah pledoi pribadiku. Lalu, kau mulai berfatwa dengan dasar ini-itu untuk sekedar meng-counter ocehan saya ini. Ah, kamu macam organ besar diluar sana yang hobi meracik fatwa buat urusan-urusan yang tak substantif. Sekali lagi saya hanya menjalankan peran sebagai kawan yang baik (setidaknya sampai detik ini). Saya hanya khawatir saja kalau nanti organ ini tetiba saja mengumumkan kalau mahasiswa yang selalu betah di kampus dan tak segera lulus kemudian dicap sebagai komoditas haram. Astaghfirullah! Na'uzubillah min zallik!

         Sekali lagi aku tekankan, mimpi memang tak wajib. Khususon  buatmu, merampungkan itu skrip(sweet) lebih utama cuk! dan juga insaallah barokah. Coba saja lagi kau gumuli itu teori-teori, kolom-kolom dan kalau perlu gumuli juga dosen pembimbingmu cuk, siapa tahu kamu bisa diluluskan dengan segera. Nah, setelah semua itu rampung baru bermimpilah lagi. Menikahi kakak batak berkacamata itu mungkin. Segera cari penghasilan tambahan mungkin. Sebab warung kopi ini tak cukup menjanjikan kenyamanan, apalagi kekayaan. 


         Dan untuk kesekian kalinya. Mimpi itu gak wajib cuk! Segera khatamkan itu tugas akhir, soal nanti mau kau tingkatkan "kelas" warung kopi ecek-ecek ini, okelah. 

___________________________________ - - - - - - - - ____________________________

         Sampai disini saya yakin kau bakal mengumpat tak karuan. Sebentar, biar saya tebak. Kamu bakal bilang begini: "Cuk! awakmu koyok wong bener wae wani mbaturi aku! Urusono pisan kui kuliahmu sing ijih akeh! KKN yo durung". Dan mungkin bakal ditambah dengan begini: "Paling ndak yo urusono kui masalah ati-mu, ndang ngomong nang bocah'e.. lanang kok ra wani ngomong". Oke cuk cukup, jangan terlalu banyak kau intervensi di kamar pribadiku ini. Sebab hidup tak melulu mengutarakan, kenapa tak ke selatan? ke tenggara? atau ke timur laut? Tak usah dijawab cuk! 

         Dan seperti halnya mimpimu, tulisan ini pun tak "wajib" untuk dibaca, apalagi kau komentari cuk!

         Tabik!

0 komentar:

Posting Komentar