Kutulis bait-bait ini di sepetak ruang yang cukup luas dan sunyi. Sendiri. Di luar begitu tenang dan sepi,
sangat sempurna. Bulanpun sudah mulai menua dan siap terlahir kembali dengan wajah baru. Tantri masih melantunkan Rock
Never Dies dengan suaranya yang khas diiringi musik yang menghentak lantang.
Tidak satu hal pun yang
langgeng disekeliling kita. Segala sesuatunya senantiasa bergerak,
berubah. Tak terkecuali waktu. Karena hal itu, diriku punya dendam yang
sangat kepada waktu yang pada akhirnya melahirkan anak bernama jarak. Entah, dari rahim
yang mana ia terlahir.
Sebaliknya aku ingin dia seharusnya tak pernah terlahir. Karena akhirnya harus begitu terasa menyiksa.Tapi satu hal,
itu tak akan diriku alamatkan pula padamu.
Serupa mentari yang
selalu hadir setiap pagi, seperti itu aku mengingatmu. Lamat-lamat dan merambat pelan. Apa kau ingat,
seperti apa awal percakapan kita?. Mungkin kau melupakannya,
tak cukup penting bukan? Tapi, aku punya beberapa jengkal penanda pesan maya yang
kau alamatkan padaku. Di 26 Mei tahun lalu,
kau pintaku memancing obrolan guna memecah kesunyian malam. Lalu, dinihari itu kau beri peringatan,
begini kalau tak salah "awas aja kalo sampe gak ngenalin aku...
dan bla..bla..bla". Apa dirimu ingat di penghujung mei,
tanpa kita sepakati menguar begitu saja panggilan "kanda-dinda".
Hampir sebulan kemudian kau pertanyakan kapan awal mula panggilan
"kanda-dinda" berawal. Aku tak menjawabnya,
justru sebuah tanya aku lontarkan. Tanya mengenai persetujuanmu dan mungkin ada yang
tak suka dengan ini semua. Kau menjawabnya cukup diplomatis, "dipaksa, terpaksa,
terbiasa dan suka". Sejak itu aku merasa ada semacam lampu hijau darimu untuk lebih mengenalmu. Mendekati dirimu. Lancang benar diriku,
tapi ah sudahlah.
Lalu di hari yang entah,
kita bertemu dalam suasana yang sakral, ngopi. Di warung kopi yang saat ini tak jelas
pula disulap jadi apa. Obrolan belum begitu cair, sudah kutinggalkan dirimu. Lalu,
kemudian rasa bersalah menyergap dan menyayat diriku yang ringkih ini. Dari pesan
yang kau balas, kau nampak sangat kecewa. Segudang maaf kusampaikan,
mencoba merajuk untuk mengganti waktu yang tersia-sia. Syukur kau menerimanya.Tapi,
untuk setelahnya sulit sekali mengajakmu ngopi. Aku mafhum, tugas kuliahmu tak pernah
main-main sepertinya.
Kemudian di medio
September. Meski terlambat jauh, kucoba selipkan bingkisan kecil berwarna silver
kepadamu, sayang tak bertemu denganmu. Lalu,
di kemudian hari kau mempertanyakannya. Untuk siapa? Dengan maksud apa?. Ya,
kala itu aku sempat gugup meski tanya itu hanya terucap lewat media sosial.
Kujawab saja itu untukmu, dariku. Dirimu menjawab dengan sebuah tanya apakah setiap yang
ulang tahun selalu anda beri gift? Aku semakin bingung,
aku hanya menjawab bahwa kebetulan saja ada rezeki. Lalu, saat kutanya mengapa,
kau hanya merasa sungkan dengan kawan-kawanmu. Maaf. Mungkin itu terlalu cepat dan berlebihan. Namun,
apakah kau sudah membukanya?dirimu menyukainya?.
Seperti yang kutulis diawal,
aku begitu membenci jarak. Jarak selalu menjadi salah satu musuh terbesarku. Sekedar kukutip sebaris kalimat puthut
di salah satu kisah pendeknya, “...yang menggetarkan selalu berjarak”. Tak sampai disana,
ia melajutkan begini, “yang menggetarkan selalu punya potensi tak tertebak”.
Menjengkelkan bukan. Tapi, kucoba nikmati banyak hal yang
berpotensi tak tertebak itu.Termasuk dirimu dan tulisan ini.Bukankah hal-hal taktertebak akan memunculkan kejutan
di akhir. Aku harap begitu.
Pada akhirnya,
aku harus benar-benar mengakuinya.Ya, ini sepotong surat cinta yang
aku alamatkan padamu. Kuno, mungkin. Di era teknologi yang
berkembang se"menjijikkan" macam begini, hal "kuno" macam ini setidaknya bisa jadi semacam jeda,
ruang bernafas agar tak semakin tenggelam dalam arusnya. Kaku, ya ini sebuah surat cinta pertama
yang aku tulis. Tak harus pink, rapi, berbunga-bunga dan wangi kan? Toh,
esensi dan isi lebih penting ketimbang citra surat cinta yang mendayu, menye-menye dan bla..bla..bla lainnya.
Semoga saja dirimu sudi dan tak segan memberi secangkir balasan ditengah sibukmu
yang sangat.
Laki "Pengecut"
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus