"... seperti biasa tapi tak biasa. Sungguh luar biasa. Cuma ada tiga di dunia. Dimanakah wajah kotaku yang dulu indah?. Tergantikan tuntutan zaman..."
Sepenggal lirik lagu dari Tamasya menjadi theme song untuk menggambarkan kondisi gumuk di Kabupaten Jember. Salah satu ciri khas kota yang mulai dipertanyakan keberadaannya di era moderen seperti sekarang. Hal ini disebabkan eksploitasi besar-besaran dan tak terkendali semakin marak akhir-akhir ini.
Menurut sejarahnya, formasi gumuk di Jember diyakini sebagai bekas aliran lava dan lahar dari kawah gunung Raung. Aliran ini lalu tertutup oleh bahan vulkanik yang lebih muda. Sampai ketebalan puluhan meter yang berasal dari gunung Raung sekarang. Kemudian terjadi erosi pada bagian-bagian yang lunak, yang terdiri atas sedimen vulkanik lepas selama kurang lebih 2000 tahun. Lalu, menghasilkan bentukan topografi gumuk hingga terlihat seperti saat ini (Verbeek dan Vennema, 1936).
Apa sebenarnya fungsi keberadaan gumuk? Bukankah lebih baik kandungannya dikeruk kemudian dijual, jadi masyarakat bisa diuntungkan dari segi ekonomi. Pendapat tadi tak salah memang, tapi apakah gumuk bisa muncul dan lahir kembali? Tentu tidak. Lalu, ketika gumuk benar-benar habis, apa yang akan terjadi sampai-sampai muncul gerakan untuk menyelamatkan gumuk?
Menurut beberapa sumber, gumuk ternyata punya fungsi dalam siklus ekologi. Fungsi gumuk-gumuk itu tak hanya sebatas sebagai pemanis kontur Jember saja, tapi lebih dari itu. Sebagai tandon hujan sekaligus filter air bersih saat kemarau tiba. Sebagai paru-paru kota, juga berfungsi sebagai lahan konservasi bagi sekawanan satwa kecil macam burung, kera dan mamalia kecil lainnya.
Jember, bisa dikatakan sebagai daerah lembah, karena terletak diantara dua perbukitan besar yaitu Argopuro dan Gumitir. Kondisi geografis inilah yang membuat Jember berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa angin puting beliung, yang beritanya beberapa waktu lalu bisa kita lihat di layar kaca. Disinilah fungsi dari gumuk-gumuk kecil itu, sebagai pemecah konsrentrasi laju angin agar bisa sedikit terkurangi.
Seperti yang dikatakan Priyo, pegawai Kantor Lingkungan Hidup Jember. "Mengkhawatirkan, kehilangan gumuk di daerah Jember dapat menyebabkan siklus banjir lima tahunan terjadi lagi, hal ini disebabkan serapan utama air yang ada di daerah Jember hilang." (Studi gumuk Jember - Palapa MIPA UNEJ).
Selain itu, salah satu situs berita online - beritajatim.com menyebutkan salah satu wilayah perumahan di kabupaten Jember airnya sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Hal ini karena sumur-sumur warga sudah tercemari oleh bakteri e-coli. Semakin jelas saja peran dan fungsi keberadaan gumuk bagi masyarakat sekitarnya.
Dilatarbelakangi keprihatinan akan kondisi gumuk di Jember itulah sekelompok pemuda-pemudi kemudian membuat kegiatan berorientasi penyelamatan gumuk. Beranggotakan sejumlah komunitas yang ada di Jember seperti Pers Mahasiswa Jember, YGV (Young Gun Veins), Cak Oyong (Pemilik Sekolah Bermain), dan RZ Hakim (Mas Bro - aktivis lingkungan) sepakat menggelar acara bertema SAVE GUMUK.
SAVE GUMUK, nama yang mewakili harapan mereka agar gumuk-gumuk yang ada saat ini khususnya di Jember dipertahankan keberadaannya alias 'disimpan'. Acara diskusi mengenai pentingnya keberadaan gumukpun dilakukan. Acara ini diharapkan sebagai langkah awal dalam usaha untuk mempertahankan dan menyelamatkan keberadaan gumuk yang mulai habis tergerus moderenisasi.
Respon masyarakat terkait acara ini cukup positif. Hal ini terbukti setelah acara SAVE GUMUK pertama (28/9/2013) di gumuk gunung batu, muncul tanggapan positif dari komunitas lainnya. Menurut Teguh (sekjend PPMI Jember 2012-2014) sekaligus koordinator acara, tanggapan positif tersebut berupa keikutsertaan komunitas lainnya dalam menggulirkan isu SAVE GUMUK dengan mengadakan acara penggalangan dana untuk membeli gumuk.
Menurut Teguh, kegiatan pembelian gumuk ini atas nama komunitas penyelamatan gumuk yang tergabung dalam SGC (Save Gumuk Community). Setelah pembelian gumuk, komunitas ini akan mengelola gumuk, memaksimalkan fungsi dan mempertahankan keberadaan gumuk. Memaksimalkan seperti apa? Gumuk akan dikelola sesuai dengan keinginan pelestarian alam. Membuat gumuk menjadi lebih produktif dengan dipelajari ekosistem yang ada, bahkan muncul wacana bahwa gumuk akan dijadikan lahan eco tourism.
"Yang masih menjadi dilema disini masalah batuan yang ada di gumuk Jember yang masih memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi sumber ekonomi masyarakat. Hal itu kemudian tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian gumuk.", sambung Teguh.
Terkait SAVE GUMUK, gerakan ini memiliki beberapa macam konsep, diantaranya 'Koin Untuk Gumuk' yang nantinya digunakan untuk membeli gumuk. ''Nantinya gumuk dijadikan lebih produktif seperti penjelasan di atas. Selain itu, mungkin mempertahankan kondisi gumuk yang sudah dibeli. Ketika gumuk tersebut dibiarkan seperti apa adanya, masyarakat masih bisa memanfaatkannya. Seperti menjadikan gumuk sebagai lahan pertanian dan penyimpanan cadangan air di wilayah tersebut'', sambung Teguh. Selain itu gerakan ini juga membantu donasi gumuk lewat penjualan kaos SAVE GUMUK yang nanti dana tersebut akan dialirkan untuk membantu program konservasi penyelamatan gumuk.
Selamatkan aset kota kita! Selamatkan Gumuk!
Salam SAVE GUMUK!
*) Tulisan ini pernah dimuat pada rubrik 'Budaya' Buletin Demokrasi Ecpose (Buldokc) No.56 Februari 2014
selamatkan gumuk. selamatkan alam.
BalasHapusSelamatkan Aset kota kita....
Hapusterimakasih @satusatuen.com atas kunjungannya