Selasa, 12 Mei 2015

Ketika Kopi Tak Lagi Panjang Berkisah

Malam ini lidah mulai meronta minta berjumpa dengan kopi. Eh, sialnya kepala juga mulai pusing karena minuman hitam ini juga sudah lama tak saya jamah, mungkin. Kemudian saya putuskan segera meluncur ke salah satu warung di daerah kampus Universitas Jember. Setiba disana saya pesan minuman favorit saya, segelas Kopi Hitam. Beberapa menit kemudian pesanan saya datang. Sambil duduk menunggu minuman saya mulai turun suhunya, saya memperhatikan sesosok lelaki duduk sendirian di seberang tempat saya berada kini. Matanya masih menerawang dengan tatapan kosong, itu yang saya baca dari raut wajahnya kini. Secangkir kopi yang masih kemebul teronggok di hadapannya. Sama sekali belum ia sentuh, apalagi ia sesap. Ia mulai melepas jaket hitam yang sedari tadi membungkus tubuhnya yang kurus kering. Sedetik kemudian ia mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel yang dibawanya. Sebuah kotak pensil berwarna hitam dengan buku gambar yang sudah tampak lusuh mengikuti sesudahnya.

Dia hanya sendiri. Duduk selonjoran dengan santai. Sedetik kemudian dia mulai keluarkan sebatang rokok, setahuku itu rokok pertama yang ia ambil dari kotaknya malam ini, sebab beberapa detik lalu saya juga perhatikan dia sedang membuka pembungkus plastik dari kotak rokok yang ia bawa. Ia gapit gulungan tembakau tadi diantara bibirnya, kemudian mulai menyalakannya. Sedetik kemudian asap putih hasil pembakaran batang tembakau tadi melayang, menyatu bersama udara disekitarnya. Bersamaan dengan itu, ia mulai mengadu pensil dengan lembaran buku yang dia keluarkan tadi. Sejenak saya berpikir, ah aneh sekali orang ini ngopi kok sendirian. Lalu, saya tinggalkan dia untuk ngobrol bersama kawan-kawan saya yang baru saja tiba menyusul.


Kurang lebih setengah jam kemudian, lelaki itu didatangi seseorang, saya bisa menebak bahwa dia sudah mengenalnya sebab tak satupun raut wajah dan tingkahnya menunjukkan bahwa ia tak mengenalnya. “Nyapo awakmu?”, Tanya seseorang yang baru datang tadi. “Cuma nggambar-nggambar mas, nyeketch”,jawabnya sedetik kemudian. Lalu, suasana menjadi hening kembali. Tak ada percakapan apapun dari dua sosok lelaki yang sama-sama menggamit batangan tembakau di antara dua bibir masing-masing. Tak berapa lama, lelaki yang sedari tadi sendiri tampak sudah menyelesaikan garapannya. Tak lama salah satu dari mereka tampak pamit dan meninggalkan tempat itu, lelaki yang sempat memiliki teman tadi, kembali sendirian, bersama kopi dihadapannya yang perlahan mulai dingin.


Satu jam kemudian, Lelaki yang kembali sendiri tadi sudah tampak mulai bosan. Ia tenggak kopi yang masih separuh mengisi gelasnya. Selanjutnya, dia bereskan pensil dan buku yang ia keluarkan tadi. Lalu, dengan sedikit tergesa ia pergi meninggalkan kafe ini. Masih kupandangi ransel yang terpasang di punggungnya, satu meter…. Dua meter…. Kemudian di ujung jalan ia menghilang, berbelok kearah jalan yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar