Malam ini lidah mulai meronta
minta berjumpa dengan kopi. Eh, sialnya
kepala juga mulai pusing karena minuman hitam ini juga sudah lama tak saya
jamah, mungkin. Kemudian saya putuskan segera meluncur ke salah satu warung di
daerah kampus Universitas Jember. Setiba disana saya pesan minuman favorit
saya, segelas Kopi Hitam. Beberapa menit kemudian pesanan saya datang. Sambil
duduk menunggu minuman saya mulai turun suhunya, saya memperhatikan sesosok
lelaki duduk sendirian di seberang tempat saya berada kini. Matanya masih
menerawang dengan tatapan kosong, itu yang saya baca dari raut wajahnya kini.
Secangkir kopi yang masih kemebul teronggok
di hadapannya. Sama sekali belum ia sentuh, apalagi ia sesap. Ia mulai melepas
jaket hitam yang sedari tadi membungkus tubuhnya yang kurus kering. Sedetik
kemudian ia mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel yang dibawanya. Sebuah
kotak pensil berwarna hitam dengan buku gambar yang sudah tampak lusuh
mengikuti sesudahnya.
Dia hanya
sendiri. Duduk selonjoran dengan santai. Sedetik kemudian dia mulai keluarkan
sebatang rokok, setahuku itu rokok pertama yang ia ambil dari kotaknya malam
ini, sebab beberapa detik lalu saya juga perhatikan dia sedang membuka
pembungkus plastik dari kotak rokok yang ia bawa. Ia gapit gulungan tembakau
tadi diantara bibirnya, kemudian mulai menyalakannya. Sedetik kemudian asap
putih hasil pembakaran batang tembakau tadi melayang, menyatu bersama udara
disekitarnya. Bersamaan dengan itu, ia mulai mengadu pensil dengan lembaran
buku yang dia keluarkan tadi. Sejenak saya berpikir, ah aneh sekali orang ini ngopi kok
sendirian. Lalu, saya tinggalkan dia untuk ngobrol bersama kawan-kawan saya
yang baru saja tiba menyusul.
Kurang lebih setengah
jam kemudian, lelaki itu didatangi seseorang, saya bisa menebak bahwa dia sudah
mengenalnya sebab tak satupun raut wajah dan tingkahnya menunjukkan bahwa ia
tak mengenalnya. “Nyapo awakmu?”,
Tanya seseorang yang baru datang tadi. “Cuma
nggambar-nggambar mas, nyeketch”,jawabnya sedetik kemudian. Lalu, suasana
menjadi hening kembali. Tak ada percakapan apapun dari dua sosok lelaki yang
sama-sama menggamit batangan tembakau di antara dua bibir masing-masing. Tak
berapa lama, lelaki yang sedari tadi sendiri tampak sudah menyelesaikan garapannya. Tak lama salah satu dari
mereka tampak pamit dan meninggalkan tempat itu, lelaki yang sempat memiliki
teman tadi, kembali sendirian, bersama kopi dihadapannya yang perlahan mulai
dingin.
Satu jam
kemudian, Lelaki yang kembali sendiri tadi sudah tampak mulai bosan. Ia tenggak
kopi yang masih separuh mengisi gelasnya. Selanjutnya, dia bereskan pensil dan
buku yang ia keluarkan tadi. Lalu, dengan sedikit tergesa ia pergi meninggalkan
kafe ini. Masih kupandangi ransel yang terpasang di punggungnya, satu meter….
Dua meter…. Kemudian di ujung jalan ia menghilang, berbelok kearah jalan yang
lain.
0 komentar:
Posting Komentar