“Ayok
ngopi, rek!”
Kopi. Yah, kopi - minuman hitam pekat yang manis-manis pahit itu. Apa
yang istimewa dari secangkir kopi? Mungkin, bagi yang tidak suka minuman ini
tak ada yang istimewa. Sebenarnya, memang tidak terlalu istimewa minuman hitam
pekat ini. Yang jadi istimewa bukan sekedar di minuman kopi itu sendiri, tapi
lebih ke ngopi-nya. Ngopi? Ya, Ngopi
lebih mengarah pada sebuah ‘aktivitas’ yang mengarah pada proses dialektika
ditemani secangkir kopi. Lalu, kalau ada yang ndak suka ngopi berarti ndak
bisa ikutan ngopi dong?. Nah, woles dulu, disitulah ‘cair’-nya ngopi,
para pehobi ngopi tak pernah benar-benar membatasi sandingan apa yang harus dihadirkan dalam dimensi ngopi tadi. Mau
ngopi sambil minum kopi kek, mau
sambil nge-jus kek, atau bahkan tak
minum apapun serasa baik-baik saja.
Coba bayangkan
saja, agenda ngopi sudah jadi semacam kewajiban hampir saya lakukan di setiap
malam. Mungkin, menurut pandangan sebagian orang kegiatan ini (baca:ngopi)
merupakan sebuah kesia-siaan. Tapi, dari kopi banyak cerita. Setidaknya itu
yang sering saya rasakan. Banyak ilmu-ilmu tentang bagaimana kehidupan ini
harus dijalani seringkali saya temukan dalam forum-forum macam begini. Forum
dengan duduk bersila diatas trotoar dengan beralaskan sandal, bersandingkan
secangkir kopi bersama seorang kawan membicarakan tentang hidup dan kehidupanpun
jadi. Obrolan bisa mengalir kearah yang tak pernah disiapkan dan direncanakan
sebelumnya. Ngopi ya ngopi sajalah. Tak
perlu mempertanyakan ngapain nanti disana
(forum ngopi)? Ngobrol apa disana? Setidaknya itu yang sempat saya tangkap
dari kawan-kawan muda saya belakangan.
Tapi, saya
mencoba mafhum akan hal itu, mungkin kawan-kawan muda tadi masih belum mengenal
asyiknya ngopi, mereka mungkin belum sempat mencecap secuil dialektika yang
lumer sekaligus hangat dan bersahabat. Besar harapan saya semoga saja mereka
segera dibukakan hatinya untuk segera menerima hidayah yang namanya ngopi. Amiiin. Hehehehehe.... Semoga mereka menemukan juga bahwa ngopi tak melulu
identik dengan orang kurang kerjaan, pengangguran atau bahkan orang tanpa masa depan, semoga sajalah.
Akhirul qalam, saya hanya bisa bilang:layaknya
mendung tak s’lalu jadi hujan, ngopipun tak selalu nyuprut kopi. Jadi, “Ayok budhal
ngopi, rek!”*).
____________________________
*) ”Mari berangkat ngopi, kawan!”
Ngopi adalah metodologi sosial hhe
BalasHapusNah, kui....
HapusSaya nunggu postingan anda yah... :)