Senin, 11 Mei 2015

Ngopi Tak Melulu Kopi.

“Ayok ngopi, rek!”

Kopi. Yah, kopi - minuman hitam pekat yang manis-manis pahit itu. Apa yang istimewa dari secangkir kopi? Mungkin, bagi yang tidak suka minuman ini tak ada yang istimewa. Sebenarnya, memang tidak terlalu istimewa minuman hitam pekat ini. Yang jadi istimewa bukan sekedar di minuman kopi itu sendiri, tapi lebih ke ngopi-nya. Ngopi? Ya, Ngopi lebih mengarah pada sebuah ‘aktivitas’ yang mengarah pada proses dialektika ditemani secangkir kopi. Lalu, kalau ada yang ndak suka ngopi berarti ndak bisa ikutan ngopi dong?. Nah, woles dulu, disitulah ‘cair’-nya ngopi, para pehobi ngopi tak pernah benar-benar membatasi sandingan apa yang harus dihadirkan dalam dimensi ngopi tadi. Mau ngopi sambil minum kopi kek, mau sambil nge-jus kek, atau bahkan tak minum apapun serasa baik-baik saja.

Coba bayangkan saja, agenda ngopi sudah jadi semacam kewajiban hampir saya lakukan di setiap malam. Mungkin, menurut pandangan sebagian orang kegiatan ini (baca:ngopi) merupakan sebuah kesia-siaan. Tapi, dari kopi banyak cerita. Setidaknya itu yang sering saya rasakan. Banyak ilmu-ilmu tentang bagaimana kehidupan ini harus dijalani seringkali saya temukan dalam forum-forum macam begini. Forum dengan duduk bersila diatas trotoar dengan beralaskan sandal, bersandingkan secangkir kopi bersama seorang kawan membicarakan tentang hidup dan kehidupanpun jadi. Obrolan bisa mengalir kearah yang tak pernah disiapkan dan direncanakan sebelumnya. Ngopi  ya ngopi sajalah. Tak perlu mempertanyakan ngapain nanti disana (forum ngopi)? Ngobrol apa disana? Setidaknya itu yang sempat saya tangkap dari kawan-kawan muda saya belakangan.


Tapi, saya mencoba mafhum akan hal itu, mungkin kawan-kawan muda tadi masih belum mengenal asyiknya ngopi, mereka mungkin belum sempat mencecap secuil dialektika yang lumer sekaligus hangat dan bersahabat. Besar harapan saya semoga saja mereka segera dibukakan hatinya untuk segera menerima hidayah yang namanya ngopi. Amiiin. Hehehehehe.... Semoga mereka menemukan juga bahwa ngopi tak melulu identik dengan orang kurang kerjaan, pengangguran atau bahkan orang tanpa masa depan, semoga sajalah.

Akhirul qalam, saya hanya bisa bilang:layaknya mendung tak s’lalu jadi hujan, ngopipun tak selalu nyuprut kopi. Jadi, “Ayok budhal ngopi, rek!”*).





____________________________

*)  ”Mari berangkat ngopi, kawan!”

2 komentar: