“ Oh, aku gak mau jadi pengecut......”
…
Alkisah, tersebutlah di sebuah wilayah
yang tak ada yang berani mengungkap apa nama dan dimana keberadaan daerah
tersebut. Hari itu senja mulai berarak merambat, menggantikan siang yang mulai
menua. Dua sosok manusia terjebak di satu ruang kubus, tak sepatah katapun,
apalagi makna. Hanya saling berdampingan dan menghadap dunia maya
masing-masing. Salah seorang dari mereka sudah asyik sedari tadi bercakap via dunia maya dengan seseorang yang
belum seutuhnya dia kenal.
Kawan yang sedari tadi
sama-sama tenggelam di dunia maya-pun mencoba mencuri tahu. Aha, dia mulai mencoba masuk ke obrolan
dua insan tak sungguh-sungguh saling
kenal tadi. Rupanya sosok kedua ini lebih massif
dalam hal melakukan pendekatan dengan sosok asing di dunia maya tadi. Setelahnya,
segera saja dia mengajak sosok tak terejawantahkan tadi untuk kopi darat. Tak
lupa, mengajak serta kawannya yang lebih dulu sudah berinteraksi secara maya tadi.
Singkat cerita, disepakati
sebuah perjumpaan di ruang dan waktu yang riil.
Kala malam tak terlalu malam. Sebuah warung kopi sederhana di tepi jalan raya
yang tak terlampau ramai lalu lalang kendaraan. Sebut saja warung ‘MG’, yang
kala itu masih tergolong warung kopi baru.
Warung ini nampak
sederhana. Dari gerbang masuknya, tampak empat buah meja kayu panjang ditemani
sepasang kursi yang terbuat kayu juga tanpa sandaran. Ketika mulai masuk,
terdapat sebuah halaman tak terlalu luas, bila ditaksir mungkin tak sampai dua
puluh motor mampu termuat disitu. Dari sana dapat dilihat jika warung kopi ini
merupakan bekas sebuah garasi sebab di pintu masuknya terdapat dua pintu besar
yang terbuat dari besi yang berkarat namun, tampak kokoh. Ada beberapa huruf
sebenarnya tertera di pintu besi ini namun, karena sudah tertutup karat huruf
yang tercetak disana sudah tak lagi bisa terbaca. Di salah satu tepi ruangan
berdiri sebuah meja kasir, sejajar di depan sebuah pintu yang belakangan
diketahui bahwa warung ini tergabung bersama sebuah rumah.
…
Empat sosok duduk manis di
sebuah meja panjang bersama sajian-sajian yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Obrolan dibuka dengan menanyakan diri satu sama lain. Bertanya kesibukan dan
kegiatan-kegiatan lainnya. Standar, klise, tak apalah ini hanya untuk memecah
sunyi dan membunuh hening di tengah-tengah mereka.
Waktu berjalan melewati
detik, menit. Tapi, ada yang salah disini. Salah seorang dari mereka tak bisa
cair masuk kedalam obrolan dan melebur bersama percakapan-percakapan yang
asyik. Dia bukan tipe orang yang mudah bergaul, mudah berbicara dengan
orang-orang yang baru ditemuinya. Tapi, disinilah awal kisah ini dimulai. Tanpa
sepatah kata, tanpa perbincangan yang benar-benar utuh.
Semenit, dua menit muncul
obrolan yang ndak perlu sebetulnya.
Tapi, toh ini warung kopi tak ada
aturan macam bagaimanapun yang membatasi pembicaraan disini. Kemudian, salah
seorang yang tak sempat benar-benar cair dalam obrolan tadi mengundurkan diri.
Empat meter di depan seseorang sudah menunggunya, sesosok wanita. Belakangan
diketahui, mereka pergi masih untuk ngopi juga, namun berbeda dimensi ruang.
…
Setting berubah seiring
berubahnya tempat dan kawan ngopi. Ngopi kali ini bukan kopi yang jadi sajian
utama namun, sebuah minuman (wedhang
dalam bahasa jawa). Kondisi tempat ngopi ini pun seratus delapan puluh
derajat berbeda dari warung pertama tadi. Jangan pernah bayangkan bahwa tempat
ini sebuah warung sederhana, rapi, bersih dan harum, ditambah dengan mbak-mbak pelayan cantik dengan rambut
dikuncir ekor kuda. Jangan sekali-kali. Disini kalian hanya akan temukan sebuah
gubuk dari bambu tanpa pintu tanpa jendela, beratap genting seadanya,
didalamnya hanya digelari sebuah karpet, yang entah kapan terakhir kali dicuci.
Di seberangnya bagian atas gorong-gorong yang tak terlalu lebar disulap menjadi
tempat nyangkruk dengan menutup
bagian atas gorong-gorong dengan campuran batu dan semen.
Meski dengan kondisi macam
begitu, tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Yang menjadikannya berbeda
memang dari minuman yang disajikan. Minuman campuran antara perasan jahe, susu
kental manis ditambah tape ketan hitam. Disajikan saat kemebul menjadikan hidangan satu ini semakin mengundang lidah
segera mencicipinya. Para penikmatya sering menyebutnya Wedhang Cor. Warung ini
buka mulai selepas maghrib hingga pukul 01.00 dini hari.
…
Kemudian, ada rasa
bersalah muncul. Rasa bersalah karena melewatkan sebuah kesempatan untuk
sedikit menyapa sosok yang baru dikenal, terlebih perjumpaan itu tak diakhiri dengan
benar, setidaknya. Sebuah permintaan maaf terkirim lewat sinyal digital. Mungkin,
karena terlalu mengharap balasan, jawaban tak kunjung menemui pasangannya. Satu
menit berselang, pesan yang ditunggu akhirnya tiba. Sebuah jawaban yang
menghantam terlampau telak. “ Oh., aq gk
mau jd pgecut...”. Sekejap kemudian, permintaan maaf terlontar sekaligus
secuil pledoi sebagai penguat
argumen. Jawaban singkat diberikan “Aq
dtinggal..”. Sebuah Tanya sekaligus ajakan bertemu di ruang maya
diungkapkan. “Udh pulang.. ndak wes,,
s0smed mndidik jd pcundang.. aq ndak mau itu.. absurd ktanya.. lnjutin deh,.
Namun, setelah berulangkali merajuk, masih lewat pesan singkat sebuah jawaban
yang sedikit menyegarkan terlontar jua. Ya,
sudah dtrima senyumx , trima kasih :).
Semenjak hari itu, sejak
malam itu segalanya berubah. Semua tak sama. Berbeda.
…
Kini, setelah sekian lama.
Sekian kejadian, berjuta-juta kemungkinan dan laku yang sudah dijalani, cerita
ini masih layak untuk dikisahkan. Hal sederhana, bahkan mungkin bukan apa-apa
bagi sebagian orang namun, kisah tetap berdiri teguh sebagai kisah. Kisah
selalu menarik untuk diceritakan. Bahkan sebuah kisah akan tetap hidup sebagai bagian
dari hidup dan kehidupan manusia.
Jika ada hal yang bisa
dipinta dan pasti terkabul, pinta itu hanya satu, “Ayo Ngopi, Tebus kembali waktu yang sudah tersiakan di masa lampau”.
Sesederhana itu kok.
Fin~
0 komentar:
Posting Komentar