Jumat, 08 Mei 2015

Secangkir Nostalgi, Setangkup Harap


            “ Oh, aku gak mau jadi pengecut......”

Alkisah, tersebutlah di sebuah wilayah yang tak ada yang berani mengungkap apa nama dan dimana keberadaan daerah tersebut. Hari itu senja mulai berarak merambat, menggantikan siang yang mulai menua. Dua sosok manusia terjebak di satu ruang kubus, tak sepatah katapun, apalagi makna. Hanya saling berdampingan dan menghadap dunia maya masing-masing. Salah seorang dari mereka sudah asyik sedari tadi bercakap via dunia maya dengan seseorang yang belum seutuhnya dia kenal.

Kawan yang sedari tadi sama-sama tenggelam di dunia maya-pun mencoba mencuri tahu. Aha, dia mulai mencoba masuk ke obrolan dua insan tak sungguh-sungguh  saling kenal tadi. Rupanya sosok kedua ini lebih massif dalam hal melakukan pendekatan dengan sosok asing di dunia maya tadi. Setelahnya, segera saja dia mengajak sosok tak terejawantahkan tadi untuk kopi darat. Tak lupa, mengajak serta kawannya yang lebih dulu sudah berinteraksi secara maya tadi.


Singkat cerita, disepakati sebuah perjumpaan di ruang dan waktu yang riil. Kala malam tak terlalu malam. Sebuah warung kopi sederhana di tepi jalan raya yang tak terlampau ramai lalu lalang kendaraan. Sebut saja warung ‘MG’, yang kala itu masih tergolong warung kopi baru.

Warung ini nampak sederhana. Dari gerbang masuknya, tampak empat buah meja kayu panjang ditemani sepasang kursi yang terbuat kayu juga tanpa sandaran. Ketika mulai masuk, terdapat sebuah halaman tak terlalu luas, bila ditaksir mungkin tak sampai dua puluh motor mampu termuat disitu. Dari sana dapat dilihat jika warung kopi ini merupakan bekas sebuah garasi sebab di pintu masuknya terdapat dua pintu besar yang terbuat dari besi yang berkarat namun, tampak kokoh. Ada beberapa huruf sebenarnya tertera di pintu besi ini namun, karena sudah tertutup karat huruf yang tercetak disana sudah tak lagi bisa terbaca. Di salah satu tepi ruangan berdiri sebuah meja kasir, sejajar di depan sebuah pintu yang belakangan diketahui bahwa warung ini tergabung bersama sebuah rumah.


Empat sosok duduk manis di sebuah meja panjang bersama sajian-sajian yang sudah mereka pesan sebelumnya. Obrolan dibuka dengan menanyakan diri satu sama lain. Bertanya kesibukan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Standar, klise, tak apalah ini hanya untuk memecah sunyi dan membunuh hening di tengah-tengah mereka.

Waktu berjalan melewati detik, menit. Tapi, ada yang salah disini. Salah seorang dari mereka tak bisa cair masuk kedalam obrolan dan melebur bersama percakapan-percakapan yang asyik. Dia bukan tipe orang yang mudah bergaul, mudah berbicara dengan orang-orang yang baru ditemuinya. Tapi, disinilah awal kisah ini dimulai. Tanpa sepatah kata, tanpa perbincangan yang benar-benar utuh.

Semenit, dua menit muncul obrolan yang ndak perlu sebetulnya. Tapi, toh ini warung kopi tak ada aturan macam bagaimanapun yang membatasi pembicaraan disini. Kemudian, salah seorang yang tak sempat benar-benar cair dalam obrolan tadi mengundurkan diri. Empat meter di depan seseorang sudah menunggunya, sesosok wanita. Belakangan diketahui, mereka pergi masih untuk ngopi juga, namun berbeda dimensi ruang.
Setting berubah seiring berubahnya tempat dan kawan ngopi. Ngopi kali ini bukan kopi yang jadi sajian utama namun, sebuah minuman (wedhang dalam bahasa jawa). Kondisi tempat ngopi ini pun seratus delapan puluh derajat berbeda dari warung pertama tadi. Jangan pernah bayangkan bahwa tempat ini sebuah warung sederhana, rapi, bersih dan harum, ditambah dengan mbak-mbak pelayan cantik dengan rambut dikuncir ekor kuda. Jangan sekali-kali. Disini kalian hanya akan temukan sebuah gubuk dari bambu tanpa pintu tanpa jendela, beratap genting seadanya, didalamnya hanya digelari sebuah karpet, yang entah kapan terakhir kali dicuci. Di seberangnya bagian atas gorong-gorong yang tak terlalu lebar disulap menjadi tempat nyangkruk dengan menutup bagian atas gorong-gorong dengan campuran batu dan semen.

Meski dengan kondisi macam begitu, tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Yang menjadikannya berbeda memang dari minuman yang disajikan. Minuman campuran antara perasan jahe, susu kental manis ditambah tape ketan hitam. Disajikan saat kemebul menjadikan hidangan satu ini semakin mengundang lidah segera mencicipinya. Para penikmatya sering menyebutnya Wedhang Cor. Warung ini buka mulai selepas maghrib hingga pukul 01.00 dini hari.
Kemudian, ada rasa bersalah muncul. Rasa bersalah karena melewatkan sebuah kesempatan untuk sedikit menyapa sosok yang baru dikenal, terlebih perjumpaan itu tak diakhiri dengan benar, setidaknya. Sebuah permintaan maaf terkirim lewat sinyal digital. Mungkin, karena terlalu mengharap balasan, jawaban tak kunjung menemui pasangannya. Satu menit berselang, pesan yang ditunggu akhirnya tiba. Sebuah jawaban yang menghantam terlampau telak. “ Oh., aq gk mau jd pgecut...”. Sekejap kemudian, permintaan maaf terlontar sekaligus secuil pledoi sebagai penguat argumen. Jawaban singkat diberikan “Aq dtinggal..”. Sebuah Tanya sekaligus ajakan bertemu di ruang maya diungkapkan. “Udh pulang.. ndak wes,, s0smed mndidik jd pcundang.. aq ndak mau itu.. absurd ktanya.. lnjutin deh,. Namun, setelah berulangkali merajuk, masih lewat pesan singkat sebuah jawaban yang sedikit menyegarkan terlontar jua. Ya, sudah dtrima senyumx , trima kasih :).

Semenjak hari itu, sejak malam itu segalanya berubah. Semua tak sama. Berbeda.
Kini, setelah sekian lama. Sekian kejadian, berjuta-juta kemungkinan dan laku yang sudah dijalani, cerita ini masih layak untuk dikisahkan. Hal sederhana, bahkan mungkin bukan apa-apa bagi sebagian orang namun, kisah tetap berdiri teguh sebagai kisah. Kisah selalu menarik untuk diceritakan. Bahkan sebuah kisah akan tetap hidup sebagai bagian dari hidup dan kehidupan manusia.

Jika ada hal yang bisa dipinta dan pasti terkabul, pinta itu hanya satu, “Ayo Ngopi, Tebus kembali waktu yang sudah tersiakan di masa lampau”. Sesederhana itu kok.


Fin~

0 komentar:

Posting Komentar