Sudah sekitar enam tahun saya
bersinggungan dan berjibaku bersama. Mulai dari “tak tahu apa-apa”, mencoba
mengenal, sesekali mempelajari keseharian dan tingkah lakunya, hingga merasa
butuh dan tak bisa jauh dengan berbagai alasan yang logis dan seringkali tanpa
alasan. Saya sedikit meminjam ucapan salah seorang kawan yang dapat
menggambarkan hal ini, “terpaksa, dipaksa, terbiasa lalu, kemudian suka”. Terpaksa
melakukan sesuatu tanpa tahu alasan dan untuk apa, dipaksa mengenali,
mengidentifikasi sekaligus mempelajari tanpa mengetahui jelas akan berakhir
dimana. Hingga pada suatu titik menjadi ‘suka’. Menjadi selalu ‘iya’. Semua itu
berjalan seolah tanpa terencana dan tak sepenuhnya disadari.
Tresna Jalaran Saka Kulina – mengutip salah
satu pepatah Jawa yang memiliki arti bahwasannya cinta timbul akibat dari
sebuah kebiasaan, menjadi klaim yang pantas dihadiahkan pada kondisi saya ini. Faktor
lainnya yang juga cukup berperan adalah “kenyamanan”, pihak yang seringkali
dibenci tapi tak jarang pula sulit untuk menyatakan pisah dengannya. Enam tahun
bukan waktu yang sebentar untuk hitung-hitungan manusia biasa seperti saya. Bisa
diibaratkan saya bertemu dengannya dalam kondisi hamil tua. Lalu, pada posisi
sekarang jabang bayi tadi sudah tumbuh bersamanya hingga menjadi bocah yang
aktif dan sedang lucu-lucunya.
Berbincang
tentang hal yang dirasa, semua frasa terkait dengan rasa yang mampu dicipta
manusia sudah pernah saya lalui bersamanya. Mulai bahagia, sedih, jengkel, sakit
hingga hampa selalu ada sepanjang perjalanan kisah saya bersamanya. Tapi, meski
sudah lama bercengkrama, saya selalu saja merasa tak sanggup untuk memberi
sesuatu yang menyenangkan atau setidaknya membanggakannya. Seingat saya tak
pernah. Sehingga rasa bersalah dan dosa selalu hadir dan menghantui pikiran. Hal
lain yang membuat saya semakin tak bisa melupakannya justru karena dia tak
pernah menuntut apa-apa. Tak sekalipun mengharap saya jadi seperti apa. Dia
hanya ingin saya bisa menemukan semangat dan memiliki performa maksimal dalam
perjalanan hidup.
“ Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskanlah memoriku tentang dia ”
- Geisha -
Tak jarang hasrat untuk lari dan
melupakannya muncul tiba-tiba dibarengi memori tentang konflik-konflik yang
sering muncul sebelumnya hingga rasa bosan yang sembarangan menyergap tanpa
permisi. Bodohnya acapkali maaf dan pemakluman menjadi lumrah hingga kemudian
menggulung kebencian yang mulai berkecambah.
Hal lain yang juga tidak mudah
saya lupakan terkait dirinya adalah kesediannya untuk selalu membuka diri untuk
saya. Untuk sekedar berkeluh kesah masalah keseharian, hingga saat dalam
“pelarian” akibat konflik dengan keluarga. Dia jadi yang pertama menawarkan
tempat berteduh yang nyaman, meski tak mewah. Menjejalinya dengan umpatan, teriakan
hingga banyak perilaku konyol dan bodoh rasanya tak pernah absen saya perbuat. Kemudian,
dia memberikan jawaban dengan ketenangan dan kenyamanan. Karena sikapnya di
satu sisi muncul perasaan menjadi “yang paling pengecut”, tapi di sisi lain
merasa “diterima”.
Dari
dirinya juga kemudian saya mengenal persaudaraan yang erat, kesederhanaan, kesetiaan
serta tak menyegera berhenti lalu berpuas diri. Lewat lingkaran yang dia jalin
membuat saya semakin merasa bukan sesiapa dan tak memiliki apa-apa. Dia
menunjukkan bahwa di atas langit tentu masih ada langit. Tak hanya itu, saat
saya sedang merasa sangat nyaman, justru sebaliknya dia menyadarkan untuk
segera keluar dari zona berbahaya berjudul “kenyamanan” dan juga “keamanan”.
Itu
saja sekilas tentang dirinya, uraian ini juga tak begitu berbobot dari segi
bahasa atau pengambilan sudut pandang. Semoga dia berkenan, meski saya rasa
tidak sama sekali.
“ Karnamu
tenang
…
Fikirkan
indah tentang surga
Seakan-akan
disana
Berhayal
semua tentang jiwa
Ku Tenang ”
- 4.20 -
| A Little Piece Of Heaven |
Happy 27th
Anniversary!
Tabik!
0 komentar:
Posting Komentar