Selasa, 05 April 2016

Tentang Aku, Kau dan (mungkin) Cerita Kita

Sudah sekitar enam tahun saya bersinggungan dan berjibaku bersama. Mulai dari “tak tahu apa-apa”, mencoba mengenal, sesekali mempelajari keseharian dan tingkah lakunya, hingga merasa butuh dan tak bisa jauh dengan berbagai alasan yang logis dan seringkali tanpa alasan. Saya sedikit meminjam ucapan salah seorang kawan yang dapat menggambarkan hal ini, “terpaksa, dipaksa, terbiasa lalu, kemudian suka”. Terpaksa melakukan sesuatu tanpa tahu alasan dan untuk apa, dipaksa mengenali, mengidentifikasi sekaligus mempelajari tanpa mengetahui jelas akan berakhir dimana. Hingga pada suatu titik menjadi ‘suka’. Menjadi selalu ‘iya’. Semua itu berjalan seolah tanpa terencana dan tak sepenuhnya disadari.  

     Tresna Jalaran Saka Kulina – mengutip salah satu pepatah Jawa yang memiliki arti bahwasannya cinta timbul akibat dari sebuah kebiasaan, menjadi klaim yang pantas dihadiahkan pada kondisi saya ini. Faktor lainnya yang juga cukup berperan adalah “kenyamanan”, pihak yang seringkali dibenci tapi tak jarang pula sulit untuk menyatakan pisah dengannya. Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk hitung-hitungan manusia biasa seperti saya. Bisa diibaratkan saya bertemu dengannya dalam kondisi hamil tua. Lalu, pada posisi sekarang jabang bayi tadi sudah tumbuh bersamanya hingga menjadi bocah yang aktif dan sedang lucu-lucunya.


     Berbincang tentang hal yang dirasa, semua frasa terkait dengan rasa yang mampu dicipta manusia sudah pernah saya lalui bersamanya. Mulai bahagia, sedih, jengkel, sakit hingga hampa selalu ada sepanjang perjalanan kisah saya bersamanya. Tapi, meski sudah lama bercengkrama, saya selalu saja merasa tak sanggup untuk memberi sesuatu yang menyenangkan atau setidaknya membanggakannya. Seingat saya tak pernah. Sehingga rasa bersalah dan dosa selalu hadir dan menghantui pikiran. Hal lain yang membuat saya semakin tak bisa melupakannya justru karena dia tak pernah menuntut apa-apa. Tak sekalipun mengharap saya jadi seperti apa. Dia hanya ingin saya bisa menemukan semangat dan memiliki performa maksimal dalam perjalanan hidup.

“ Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia

Hapuskanlah memoriku tentang dia ” 

- Geisha -


     Tak jarang hasrat untuk lari dan melupakannya muncul tiba-tiba dibarengi memori tentang konflik-konflik yang sering muncul sebelumnya hingga rasa bosan yang sembarangan menyergap tanpa permisi. Bodohnya acapkali maaf dan pemakluman menjadi lumrah hingga kemudian menggulung kebencian yang mulai berkecambah.

     Hal lain yang juga tidak mudah saya lupakan terkait dirinya adalah kesediannya untuk selalu membuka diri untuk saya. Untuk sekedar berkeluh kesah masalah keseharian, hingga saat dalam “pelarian” akibat konflik dengan keluarga. Dia jadi yang pertama menawarkan tempat berteduh yang nyaman, meski tak mewah. Menjejalinya dengan umpatan, teriakan hingga banyak perilaku konyol dan bodoh rasanya tak pernah absen saya perbuat. Kemudian, dia memberikan jawaban dengan ketenangan dan kenyamanan. Karena sikapnya di satu sisi muncul perasaan menjadi “yang paling pengecut”, tapi di sisi lain merasa “diterima”.

      Dari dirinya juga kemudian saya mengenal persaudaraan yang erat, kesederhanaan, kesetiaan serta tak menyegera berhenti lalu berpuas diri. Lewat lingkaran yang dia jalin membuat saya semakin merasa bukan sesiapa dan tak memiliki apa-apa. Dia menunjukkan bahwa di atas langit tentu masih ada langit. Tak hanya itu, saat saya sedang merasa sangat nyaman, justru sebaliknya dia menyadarkan untuk segera keluar dari zona berbahaya berjudul “kenyamanan” dan juga “keamanan”.


     Itu saja sekilas tentang dirinya, uraian ini juga tak begitu berbobot dari segi bahasa atau pengambilan sudut pandang. Semoga dia berkenan, meski saya rasa tidak sama sekali.

               

 “ Karnamu tenang

Fikirkan indah tentang surga
Seakan-akan disana
Berhayal semua tentang jiwa
Ku Tenang ”
- 4.20 -



A Little Piece Of Heaven




Happy 27th Anniversary!

Tabik!

0 komentar:

Posting Komentar