“ Kamu saya lihat dari dulu ya
begini-begini saja, tak ada perubahan, tak ada perkembangan ”.
Ucapan tadi
secara serampangan muncrat dari mulut salah satu kawan di warung kopi. Tentu,
dialamatkan kepada saya. Kemudian tanpa ba-bi-bu,
complain saya muntahkan. Lha, kok
bisa? Berapa lama anda mengenal saya? Sejauh dan sedalam apa anda mengerti
tentang saya? Lha kok berani-beraninya ber-statement macam babi begitu?.
…
Jika orang tua
yang sudah memiliki keluarga, anak dan istrinya boleh jadi sebagai motivasi
utama dalam setiap tindakannya. Bagaimana dia memberikan keamanan dan rasa
nyaman untuk anggota keluarga lainnya. Ambil contoh lain, seseorang bisa
menjadikan “calon gebetan” sebagai motivasi ter-luhurnya. Alasannya, dia ingin
mendapat perhatian dari si-calon gebetan atau menginginkan si-calon gebetan
tadi bersanding di sisinya. Ehm. Dia
rela menempuh perjalanan jauh, kehujanan dan berpanas-panas hanya karena
si-calon gebetan yang meminta. Anything
for you-lah.
Bila diintip
dari pengertiannya, motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan
sesuatu dengan tujuan tertentu, baik secara sadar atau tidak. Ngeri bukan? Disitu dikatakan “secara
sadar atau tidak”. Boleh jadi, permintaan dari si-calon gebetan tadi semacam
gendam. Sekali dia meminta sesuatu, tiba-tiba saja otak tidak bisa mengontrol bibir
untuk berkata tidak. Yang terjadi kemudian justru sebaliknya, permintaan itu
menjadi semacam titah yang harus dipenuhi sekaligus ditaati. Bahkan kalau bisa
segera, jangan sampai tertunda barang semenit saja.
Contoh lain,
coba perhatikan para keluarga korban kegaduhan politik 97-98. Mereka menjadikan
anggota keluarganya yang “dihilangkan paksa” sebagai motivasi untuk rutin melakukan
aksi kamisan di depan Istana Negara. Mereka hanya punya satu hal, yakni harapan
untuk mengetahui bagaimana nasib dan kabar anggota keluarga tercintanya.
Meskipun pada akhirnya mereka juga menuntut adanya pengusutan kasus tragedi
97-98 tersebut. Tak boleh juga kita lupakan bagaimana para martir-martir dulu,
rela menyerahkan apa saja, baik pemikiran, tenaga, harta bahkan nyawa hanya demi
idea yang bernama kemerdekaan.
Atau satu lagi,
apa yang jadi motivasi kakak-kakak aktivis persma dan aktivis lainnya untuk keukeh membela idealisme mereka?
Sampai-sampai mereka rela untuk telat lulus,
atau bahkan sampai tak kepikiran yang namanya gebetan, lha wong mandi saja mereka sering lupa.
Hal
lain lagi, ada saja orang-orang yang selalu menjadikan kelemahan orang lain
sebagai bahan cemoohan. Kalau meniru bahasa dedeque-dedeque
kekinian istilahnya bullying. Apa
motivasi kalian mengolok-olok orang lain di muka umum? Kalian hanya ingin
mencairkan suasana? Sekali-dua kali bolehlah,
tapi kalau setiap kumpul selalu bully-an
yang meluncur dari mulut kalian, maaf saya menyarankan anda segera ke
psikiater. Sepertinya ada yang tidak pas di otak sampeyan. Dan ingat, itu juga tidak sehat buat kejiwaan kawan yang sampeyan bully. Camkan itu!
…
Kembali
menyoal statement bahwa saya tak ada
perkembangan. Jika anda menilai saya tak ada perubahan, berarti anda luput
memperhatikan saya. Sudah berapa banyak informasi terkait saya yang anda
kumpulkan hingga berani berstatement macam
begitu? Setidaknya, sebagai bagian dari civitas
akademika anda juga paham jika setiap beragumen setidaknya anda punya
sekotak argument penguatnya juga. Atau mungkin saya salah menilai? Jangan-jangan
anda di didik dengan pola dan gaya seperti itu. Yang ndak perlu cari argumen penguat masuk akal, yang penting ngotot dan
ngeyel dulu, untuk alasan dan
argument urusan belakang. Cih!
Tapi, sudahlah
saya tak mau berumit-rumit. Ucapan terimakasih yang ikhlas saya haturken kepada anda. Sedikit sok bijak saya akan terbuka dan lapang
dada untuk menerima maaf dari anda. Toh,
tak ada manusia manapun yang luput dari cela dan alpa. Tapi, jika anda tidak
merasa berbuat salah ya sudah, it’s fine, toh
saya tidak akan menarik rasa terimakasih saya. Karena anda juga akhirnya saya termotivasi
bikin ocehan macam begini.
Tabik !
*) Tulisan ini
diikutkan event Kelompok Menulis dengan tema “motivasi” bersama dedeque-dedeque Lpme Ecpose tercinta.
Bener katamu tentang bullying, ia seolah dianggap sebagai pencair suasana dalam obrolan. Padahal, orang yang menindas dan orang yang ditindas keduanya kehilangan sisi kemanusiaannya. Yang menindas menghilangkan kemanusiaannya, yang ditindas kemanusiaannya dihilangkan.
BalasHapus\m/
Hapus