Minggu, 10 April 2016

Terpaksa Ku Tuliskan*)

“ Kamu saya lihat dari dulu ya begini-begini saja, tak ada perubahan, tak ada perkembangan .

Ucapan tadi secara serampangan muncrat dari mulut salah satu kawan di warung kopi. Tentu, dialamatkan kepada saya. Kemudian tanpa ba-bi-bu, complain saya muntahkan. Lha, kok bisa? Berapa lama anda mengenal saya? Sejauh dan sedalam apa anda mengerti tentang saya? Lha kok berani-beraninya ber-statement macam babi begitu?.

Jika orang tua yang sudah memiliki keluarga, anak dan istrinya boleh jadi sebagai motivasi utama dalam setiap tindakannya. Bagaimana dia memberikan keamanan dan rasa nyaman untuk anggota keluarga lainnya. Ambil contoh lain, seseorang bisa menjadikan “calon gebetan” sebagai motivasi ter-luhurnya. Alasannya, dia ingin mendapat perhatian dari si-calon gebetan atau menginginkan si-calon gebetan tadi bersanding di sisinya. Ehm. Dia rela menempuh perjalanan jauh, kehujanan dan berpanas-panas hanya karena si-calon gebetan yang meminta. Anything for you-lah. 



Bila diintip dari pengertiannya, motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu, baik secara sadar atau tidak. Ngeri bukan? Disitu dikatakan “secara sadar atau tidak”. Boleh jadi, permintaan dari si-calon gebetan tadi semacam gendam. Sekali dia meminta sesuatu, tiba-tiba saja otak tidak bisa mengontrol bibir untuk berkata tidak. Yang terjadi kemudian justru sebaliknya, permintaan itu menjadi semacam titah yang harus dipenuhi sekaligus ditaati. Bahkan kalau bisa segera, jangan sampai tertunda barang semenit saja.

Contoh lain, coba perhatikan para keluarga korban kegaduhan politik 97-98. Mereka menjadikan anggota keluarganya yang “dihilangkan paksa” sebagai motivasi untuk rutin melakukan aksi kamisan di depan Istana Negara. Mereka hanya punya satu hal, yakni harapan untuk mengetahui bagaimana nasib dan kabar anggota keluarga tercintanya. Meskipun pada akhirnya mereka juga menuntut adanya pengusutan kasus tragedi 97-98 tersebut. Tak boleh juga kita lupakan bagaimana para martir-martir dulu, rela menyerahkan apa saja, baik pemikiran, tenaga, harta bahkan nyawa hanya demi idea yang bernama kemerdekaan.

Atau satu lagi, apa yang jadi motivasi kakak-kakak aktivis persma dan aktivis lainnya untuk keukeh membela idealisme mereka? Sampai-sampai mereka rela untuk telat lulus, atau bahkan sampai tak kepikiran yang namanya gebetan, lha wong mandi saja mereka sering lupa.

          Hal lain lagi, ada saja orang-orang yang selalu menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan cemoohan. Kalau meniru bahasa dedeque-dedeque kekinian istilahnya bullying. Apa motivasi kalian mengolok-olok orang lain di muka umum? Kalian hanya ingin mencairkan suasana? Sekali-dua kali bolehlah, tapi kalau setiap kumpul selalu bully-an yang meluncur dari mulut kalian, maaf saya menyarankan anda segera ke psikiater. Sepertinya ada yang tidak pas di otak sampeyan. Dan ingat, itu juga tidak sehat buat kejiwaan kawan yang sampeyan bully. Camkan itu!

          Kembali menyoal statement bahwa saya tak ada perkembangan. Jika anda menilai saya tak ada perubahan, berarti anda luput memperhatikan saya. Sudah berapa banyak informasi terkait saya yang anda kumpulkan hingga berani berstatement macam begitu? Setidaknya, sebagai bagian dari civitas akademika anda juga paham jika setiap beragumen setidaknya anda punya sekotak argument penguatnya juga. Atau mungkin saya salah menilai? Jangan-jangan anda di didik dengan pola dan gaya seperti itu. Yang ndak perlu cari argumen penguat masuk akal, yang penting ngotot dan ngeyel dulu, untuk alasan dan argument urusan belakang. Cih!

Tapi, sudahlah saya tak mau berumit-rumit. Ucapan terimakasih yang ikhlas saya haturken kepada anda. Sedikit sok bijak saya akan terbuka dan lapang dada untuk menerima maaf dari anda. Toh, tak ada manusia manapun yang luput dari cela dan alpa. Tapi, jika anda tidak merasa berbuat salah ya sudah, it’s fine,  toh saya tidak akan menarik rasa terimakasih saya. Karena anda juga akhirnya saya termotivasi bikin ocehan macam begini.

                Tabik !



*) Tulisan ini diikutkan event Kelompok Menulis dengan tema “motivasi” bersama dedeque-dedeque Lpme Ecpose tercinta.

2 komentar:

  1. Bener katamu tentang bullying, ia seolah dianggap sebagai pencair suasana dalam obrolan. Padahal, orang yang menindas dan orang yang ditindas keduanya kehilangan sisi kemanusiaannya. Yang menindas menghilangkan kemanusiaannya, yang ditindas kemanusiaannya dihilangkan.

    BalasHapus