Jumat, 27 Maret 2015

Gara-Gara Hudi - (Korban Dari Intervensi dan Hegemoni)

Jadi, bagaimana saya harus memulainya?. Hmmm..... Ah, iya malam terlalu malam kini dan pagi belum juga ceria untuk menyapa. Empat orang anak cucu adam belum juga mau berkompromi dengan lelahnya, mungkin berkat kerasnya kopi yang sudah mereka tenggak berjam-jam yang lalu.

Baiklah saya coba ceritakan apa yang terjadi sejam lalu. Kawan saya si-Reza a.k.a Puni baru saja rampung ngoprek sekaligus ngobrak-abrik halaman pribadi yang telah lama tak ia rawat (Sejatinya ia sudah membangun 'rumah' ini sejak 2012 yang lalu. Hmmm, cukup lama juga ya...). Mulai dari merubah tata letak dan mengganti cat yang dia rasa telah usang dimakan usia. 

Minggu, 01 Maret 2015

Semut-semut Kecil

Bernafaslah nak, selagi bisa. Bernafaslah selagi pohon-pohon disini belum tumbang karena perkasanya mesin dari Negara-negara maju itu. Hirup nak, hirup yang puas udara yang masih perawan ini sebelum karbon dari cerobong dan pantat-pantat kendaraan mencekik kerongkonganmu. Berpetualang dan jejakkan kaki mungilmu diatas tanah lembab dan guguran daun ini nak, selagi ia belum menjelma aspal yang panas dan beton keras. Sebab nanti kaki kecilmu akan terluka. Basuhlah wajahmu sekaligus ceburkan dirimu di sungai yang jernih itu nak. Berenang dan menarilahlah bersama ikan-ikan disitu nak, sebab tak lama lagi air sungai itu akan keruh digantikan limbah, sampah, dan segala kotoran dari tangan-tangan yang tak bertanggungjawab. Mari sini nak. Pandanglah segera langit biru diatas sana. Lihat betapa gembiranya awan berarak menggoda didepan gagahnya si-langit biru. Sebab itu tak akan lama karna asap-asap pabrik para konglomerat itu akan menggantinya dengan abu-abu dan hitam.

Ah, kenapa kau menangis nak? Janganlah bersedih. Busungkan dadamu kuatkan hatimu karena inilah dunia, nak. Segala busuk dan rusak ini karena mahluk yang bernama ‘manusia’. Iya, nak ma-nu-sia. Mahluk yang bangga akan derajat dan pikirannya.

Jumat, 13 Februari 2015

Obrolan Tengah Wengi – Sebuah Tulisan Absurd sebagai Ikhtiar Melawan Lupa

Jember Tiga Belas Februari 2015 3:06 dini hari. Mataku masih saja tak mau dikatupkan, efek kopi yang ku tenggak hari ini mungkin. Seingatku hari ini dua gelas kopi sudah masuk di lambungku. Pertama, pagi tadi sebelum diriku ‘berurusan’ dengan birokrasi kampus untuk mengurusi penundaan pembayaran biaya kuliah. Lalu, yang kedua kalinya baru saja tandas sekitar sejam lalu sebelum tandasnya si-hudi menuju alam baka eh, salah maksudnya alam mimpinya. Ah, semoga dia memimpikan hal diharapkannya. Bermimpi tentang kegalauan dan segala tetek bengek jalan yang harus dia tempuh dengan ‘si-dia’ yang menurutnya bakal menemui ‘persimpangan’ yang takkan bisa dihindari, begitu kalau ndak salah. Tak tau berapa jam tadi kita bicara panjang lebar berbagai masalah mulai bahasan mengenai saya yang masih saja setia dengan yang namanya ‘lupa’. Ya, saya ndak paham kenapa saya mengidap ‘eSeMeS (Short Memory Syndrome)’. Yang saya ingat hanya dari saya SD dulu saya sering sekali lupa membawa perlengkapan sekolah, lupa kalau hari itu ada ulangan harian sampai hampir selalu lupa mengerjakan tugas. Akibatnya ya bisa ditebak, setiap ada siswa yang dihukum maju kedepan kelas karena tidak mengerjakan tugas, sosok saya hampir selalu muncul disana. Hal yang memalukan sebenarnya, tapi saya memilih untuk menceritakannya kini agar saya ingat suatu hari nanti. Seperti tagline blog yang beberapa hari lalu saya baca ‘saya pelupa maka saya menulis’ begitu katanya. Lalu, obrolan berpindah ke hmmm apa tadi yah? Ah, sial saya lupa lagi. Yang saya ingat kita membicarakan masalah karya, seperti apa sih sebenarnya karya itu?. Beberapa yang saya ingat lagi karya itu ya hasil alias buah dari pemikiran. Lalu, pemikiran yang seperti apa? Yah, tergantung karya seperti apa yang dihasilkan. Ibarat seorang seniman rupa, mereka dikatakan berkarya bila dia menghasilkan seni rupa, seperti desain, lukisan, gambar, sketsa dan lain sebagainya. Terus, bagaimana dengan petani dan nelayan? Apakah mereka juga tidak berkarya? Kalau dalam konteks ini ‘karya’ mereka ya apa yang mereka lakukan. Kalau nelayan ya melaut dengan keahliannya melihat arah angin kek, merajut jala, ataupun membuat perahu. Kalau mereka petani ya mereka mulai dari memilih benih yang bagus, menanam benih, mengairi lahan sawahnya, hingga bagaimana mereka memanen padi mereka.

Minggu, 11 Januari 2015

Mari Me-Nyata!

Pada akhirnya, sedikit banyak saya mulai menemukan tujuan dalam mengisi ruang virtual ini. Bukan soal menghegemoni orang lain atau sebagai ajang eksistensi diri. Ini hanya soal merawat ingatan. Secuil cara saya untuk menolak lupa dan dikangkangi zaman, memunguti kembali ingatan-ingatan yang berserak tak karuan.


Mungkin, tujuan mulia lainnya hanya sedikit berbagi kisah serta secuil pengalaman pribadi. Sebuah keinginan yang sederhana. Hal lain mengenai konsistensi. Ruang yang mulai terlupakan dengan dalih 'kesibukan', 'tugas yang memberatkan' serta musuh paling bebal dan masih saja sulit untuk ditundukkan 'kemalasan' dan 'kebanyakan alasan'.


Rabu, 10 Desember 2014

Pokok’e Nulis

“Orang boleh setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” 
– Pramoedya Ananta Toer 

Menulis. Yah, salah satu hal yang bisa dibilang kegiatan yang menyulitkan mungkin. Banyak alasan terlontar saat orang akan mulai menulis. Mulai dari tidak paham tata bahasa lah, yang bilang ndak tau apa yang mau ditulis dan banyak alasan-alasan lainnya. Termasuk saya, yang sering dibingungkan hal-hal remeh macam begini. Tapi, saya akhirnya sedikit teringat kata salah seorang kawan, begini kalau tidak salah: “nulis yo nulis ae” (menulis ya menulislah saja). Dengan dasar asumsi itu akhirnya saya mulai menulis lagi.

Apa sih enaknya nulis? Orang-orang yang memilih bergelut dengan tulisan kadang dipandang melankolis, menye-menye, dan anggapan minor lainnya. Tapi, coba kalian lihat, napoleon bonaparte sempat berujar: “lebih baik menghadapi seribu tentara daripada berhadapan dengan sebuah pena”. Lihat, betapa kerennya sebenarnya memilih jalan untuk bercumbu dengan tulisan. Dari kutipan bonaparte tadi, asumsi menulis dekat dengan hal menye-menye jadi rontok kan?

Muncul lagi pernyatan begini, aku ndak bisa nulis. Ah, pernyataan konyol apalagi ini. Hal ini wajar terlontar dari mulut seoang lulusan SD atau malah orang yang belum pernah sekalipun mengecap dunia pendidikan. Tapi anehnya, ini terlontar dari mulut seorang mahasiswa. Aneh bukan? Tak peduli ia punya latar belakang semacam apa, tapi setidaknya sudah lebih dari sembilan tahun dia melakoni ritus yang dinamakan me-nu-lis.Saat hal ini dilemparkan pada yang bersangkutan, dia malah bingung, lalu melempar pertanyaan balik apa yang harus aku tulis?. Bagi saya – masih terdoktrin kata si Tohan, sekali lagi nulis yo nulis ae (menulis ya, tulis saja). Pun, banyak hal yang bisa ditulis kan? Pengalaman sehari-hari macam diary atau bagi yang hobby mendengar musik review saja musik-musik yang sering kalian dengar. Masalah nanti ada yang baca atau tidak, ah itu urusan belakang, yang penting nulis. Coba baca lagi kutipan di awal tulisan ini.