Minggu, 11 Januari 2015

Mari Me-Nyata!

Pada akhirnya, sedikit banyak saya mulai menemukan tujuan dalam mengisi ruang virtual ini. Bukan soal menghegemoni orang lain atau sebagai ajang eksistensi diri. Ini hanya soal merawat ingatan. Secuil cara saya untuk menolak lupa dan dikangkangi zaman, memunguti kembali ingatan-ingatan yang berserak tak karuan.


Mungkin, tujuan mulia lainnya hanya sedikit berbagi kisah serta secuil pengalaman pribadi. Sebuah keinginan yang sederhana. Hal lain mengenai konsistensi. Ruang yang mulai terlupakan dengan dalih 'kesibukan', 'tugas yang memberatkan' serta musuh paling bebal dan masih saja sulit untuk ditundukkan 'kemalasan' dan 'kebanyakan alasan'.


Rabu, 10 Desember 2014

Pokok’e Nulis

“Orang boleh setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” 
– Pramoedya Ananta Toer 

Menulis. Yah, salah satu hal yang bisa dibilang kegiatan yang menyulitkan mungkin. Banyak alasan terlontar saat orang akan mulai menulis. Mulai dari tidak paham tata bahasa lah, yang bilang ndak tau apa yang mau ditulis dan banyak alasan-alasan lainnya. Termasuk saya, yang sering dibingungkan hal-hal remeh macam begini. Tapi, saya akhirnya sedikit teringat kata salah seorang kawan, begini kalau tidak salah: “nulis yo nulis ae” (menulis ya menulislah saja). Dengan dasar asumsi itu akhirnya saya mulai menulis lagi.

Apa sih enaknya nulis? Orang-orang yang memilih bergelut dengan tulisan kadang dipandang melankolis, menye-menye, dan anggapan minor lainnya. Tapi, coba kalian lihat, napoleon bonaparte sempat berujar: “lebih baik menghadapi seribu tentara daripada berhadapan dengan sebuah pena”. Lihat, betapa kerennya sebenarnya memilih jalan untuk bercumbu dengan tulisan. Dari kutipan bonaparte tadi, asumsi menulis dekat dengan hal menye-menye jadi rontok kan?

Muncul lagi pernyatan begini, aku ndak bisa nulis. Ah, pernyataan konyol apalagi ini. Hal ini wajar terlontar dari mulut seoang lulusan SD atau malah orang yang belum pernah sekalipun mengecap dunia pendidikan. Tapi anehnya, ini terlontar dari mulut seorang mahasiswa. Aneh bukan? Tak peduli ia punya latar belakang semacam apa, tapi setidaknya sudah lebih dari sembilan tahun dia melakoni ritus yang dinamakan me-nu-lis.Saat hal ini dilemparkan pada yang bersangkutan, dia malah bingung, lalu melempar pertanyaan balik apa yang harus aku tulis?. Bagi saya – masih terdoktrin kata si Tohan, sekali lagi nulis yo nulis ae (menulis ya, tulis saja). Pun, banyak hal yang bisa ditulis kan? Pengalaman sehari-hari macam diary atau bagi yang hobby mendengar musik review saja musik-musik yang sering kalian dengar. Masalah nanti ada yang baca atau tidak, ah itu urusan belakang, yang penting nulis. Coba baca lagi kutipan di awal tulisan ini.

Jumat, 19 September 2014

Gumuk'e Nang Ndi Rek? *)

"... seperti biasa tapi tak biasa. Sungguh luar biasa. Cuma ada tiga di dunia. Dimanakah wajah kotaku yang dulu indah?. Tergantikan tuntutan zaman..."


     Sepenggal lirik lagu dari Tamasya menjadi theme song untuk menggambarkan kondisi gumuk di Kabupaten Jember. Salah satu ciri khas kota yang mulai dipertanyakan keberadaannya di era moderen seperti sekarang. Hal ini disebabkan eksploitasi besar-besaran dan tak terkendali semakin marak akhir-akhir ini.

     Menurut sejarahnya, formasi gumuk di Jember diyakini sebagai bekas aliran lava dan lahar dari kawah gunung Raung. Aliran ini lalu tertutup oleh bahan vulkanik yang lebih muda. Sampai ketebalan puluhan meter yang berasal dari gunung Raung sekarang. Kemudian terjadi erosi pada bagian-bagian yang lunak, yang terdiri atas sedimen vulkanik lepas selama kurang lebih 2000 tahun. Lalu, menghasilkan bentukan topografi gumuk hingga terlihat seperti saat ini (Verbeek dan Vennema, 1936).

Senin, 11 Agustus 2014

Manusia?

Manusia. Dia akan dianggap manusia ketika dia bisa me-manusia-kan manusia-manusia lainnya.

- oOo -

Era teknologi semakin maju pesat. Hampir di semua sendi kehidupan kini tak ada yang luput dari cumbuan mahluk satu ini. Mulai dari yang namanya komputer sampai yang lagi 'booming' di gerombolan kanca-kancaku sekarang, smartphone kalo ndak salah.

Terus, kenapa dengan smartphone, teknologi, dan segala tetek bengeknya? Kalau masalah tiga hal diatas tadi aku ndak ada masalah. Tapi, efeknya itu lho, njancuk'i. Asu-lah pokok'e
Kemajuan pesat teknologi tadi akhirnya mewabah ke hampir semua kanca-kancaku. Lha yang nggarai aku misuh-misuh kui  begini, ketika mereka asik dengan smartphone dan sekutunya tadi mereka jadi lupa diri. Kanca-kancaku yang tadinya sering ketemu, kumpul bareng (tapi ndak kumpul kebo), ngopi sekarang berubah. Bukan tiba-tiba jadi ndak pernah ngopi. Ngopinya tetep, tapi forum ngopinya tadi jadi beku. Kaku. Mati. Terus, ndak salah juga kan aku ngomong ASU!! kalau sudah begini keadaannya.

Rabu, 23 Juli 2014

Mulai Berceloteh

'Ngopi oleh pahala yo ngene iki'. Celetukan salah seorang pemuda disampingku. Hahahaha.... Kalian mungkin bertanya. Celetukan tadi keluar dari cocot salah satu pengunjung warung kopi. Terus, apa yang jadi dasar celetukannya? Jadi, disini merupakan salah satu tempat ngopi di kota ini. Bukan kafe elit, bahkan jauh dari kata mewah. Ini cuma halaman parkir stasiun radio di kotaku. Aneh, mungkin buat kalian yang belum pernah kesini. Kalau main ke Jember coba mampir kesini. Prosalina. Ya, seperti yang kubilang tadi halaman parkir radio ini setiap malam disulap jadi tongkrongannya pemuda-pemudi.

Nah, kembali ke ngopi yang berpahala. Kok, bisa ngopi berpahala? Sepintas kemudian aku baru ngeh. Di stasiun radio ini tiap malam di bulan ramadhan ini dijadikan medan laga buat umat-umat yang getol baca ayat-ayat suci milik-Nya. Lomba Tilawatil Qur'an. Ya...ya... bener juga soal 'ngopi berpahala' tadi. Kalau ndak salah (berarti bener cuk), mendengar orang baca Qur'an saja sudah berpahala, apalagi baca. He.. he.. he.. he.. aku ndak nyuruh kalian baca Qur'an lho, masalah itu sih kembali ke pribadi masing-masing wae. Kalo sedikit dibahas, enak juga kalo tiap nyangkruk ngopi terus didendangkan ayat Tuhan macam begini. Mungkin, bisa jadi pahala kita sedikit-sedikit bakal bertambah. Hwa.. hwa.. ha.. ha..