Jumat, 08 Mei 2015

Secangkir Nostalgi, Setangkup Harap


            “ Oh, aku gak mau jadi pengecut......”

Alkisah, tersebutlah di sebuah wilayah yang tak ada yang berani mengungkap apa nama dan dimana keberadaan daerah tersebut. Hari itu senja mulai berarak merambat, menggantikan siang yang mulai menua. Dua sosok manusia terjebak di satu ruang kubus, tak sepatah katapun, apalagi makna. Hanya saling berdampingan dan menghadap dunia maya masing-masing. Salah seorang dari mereka sudah asyik sedari tadi bercakap via dunia maya dengan seseorang yang belum seutuhnya dia kenal.

Kawan yang sedari tadi sama-sama tenggelam di dunia maya-pun mencoba mencuri tahu. Aha, dia mulai mencoba masuk ke obrolan dua insan tak sungguh-sungguh  saling kenal tadi. Rupanya sosok kedua ini lebih massif dalam hal melakukan pendekatan dengan sosok asing di dunia maya tadi. Setelahnya, segera saja dia mengajak sosok tak terejawantahkan tadi untuk kopi darat. Tak lupa, mengajak serta kawannya yang lebih dulu sudah berinteraksi secara maya tadi.

Sabtu, 28 Maret 2015

Terus Saja Mencari, Itu Sudah Cukup

Kamu tahu? Banyak hal di dunia ini yang masih saja tak bisa diungkapkan dengan kata, bahkan untuk memberi hal-hal tersebut sebuah nama menjadi hal yang sangat jauh untuk bisa digapai. Kita manusia hanya bisa kemudian memberinya sebutan sebagai enigma, misteri. Kita manusia juga terkadang terlalu congkak bahkan seringkali lancang untuk mencari-cari sesuatu dibalik sesuatu itu sendiri. Kita terlampau keras kepala dengan membenarkan hal ini-itu secara serampangan. Tapi, bukankah itu mengasyikkan? Kita bergumul dengan ketidaktahuan lalu mencari tahu, hingga seringkali di penghujung pencarian kita harus mau mengakui yah,ini sudah cukup. Namun, sekali lagi tak banyak orang yang sudah mencapai titik tersebut, seringkali kita akhirnya harus mengatakan cukup padahal tak banyak yang sudah kita lakukan. Kalau, kata teman ngopi saya si-Hudi sih terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Lalu, bagaimana kita seharusnya bersikap atas hal ini? Saya rasa sederhana saja, kita sebagai manusia salah satu tugasnya adalah mencari. Yah, mencari. Cukuplah kita asyik dalam mencari tanpa harus kita menggebu mematok hasil supaya kita bertemu dengan yang namanya ‘tahu’. Klise. Memang, bukankah hidup dan kehidupan ini terlampau klise, bahkan untuk sekedar dijelaskan apa kehidupan itu sendiri. Mungkin kita perlu sekedar meluangkan waktu untuk menonton Dora The Explorer. Acara itu terlampau kekanak-kanakan, sekilas memang tampak seperti itu. Tapi, saya pernah mendengar kita berlu mencari gejala di dalam jelaga. Disini bukan tentang tayangan yang terlampau kekanak-kanakan, tapi ini soal pencarian dan keteguhan hati untuk tak sekedar berkata ‘sudah cukup’ padahal kita tak banyak melakukan apa-apa. Ini soal seberapa jauh keseriusan kita untuk tetap teguh dalam proses mencari itu sendiri.

Jumat, 27 Maret 2015

Gara-Gara Hudi - (Korban Dari Intervensi dan Hegemoni)

Jadi, bagaimana saya harus memulainya?. Hmmm..... Ah, iya malam terlalu malam kini dan pagi belum juga ceria untuk menyapa. Empat orang anak cucu adam belum juga mau berkompromi dengan lelahnya, mungkin berkat kerasnya kopi yang sudah mereka tenggak berjam-jam yang lalu.

Baiklah saya coba ceritakan apa yang terjadi sejam lalu. Kawan saya si-Reza a.k.a Puni baru saja rampung ngoprek sekaligus ngobrak-abrik halaman pribadi yang telah lama tak ia rawat (Sejatinya ia sudah membangun 'rumah' ini sejak 2012 yang lalu. Hmmm, cukup lama juga ya...). Mulai dari merubah tata letak dan mengganti cat yang dia rasa telah usang dimakan usia. 

Minggu, 01 Maret 2015

Semut-semut Kecil

Bernafaslah nak, selagi bisa. Bernafaslah selagi pohon-pohon disini belum tumbang karena perkasanya mesin dari Negara-negara maju itu. Hirup nak, hirup yang puas udara yang masih perawan ini sebelum karbon dari cerobong dan pantat-pantat kendaraan mencekik kerongkonganmu. Berpetualang dan jejakkan kaki mungilmu diatas tanah lembab dan guguran daun ini nak, selagi ia belum menjelma aspal yang panas dan beton keras. Sebab nanti kaki kecilmu akan terluka. Basuhlah wajahmu sekaligus ceburkan dirimu di sungai yang jernih itu nak. Berenang dan menarilahlah bersama ikan-ikan disitu nak, sebab tak lama lagi air sungai itu akan keruh digantikan limbah, sampah, dan segala kotoran dari tangan-tangan yang tak bertanggungjawab. Mari sini nak. Pandanglah segera langit biru diatas sana. Lihat betapa gembiranya awan berarak menggoda didepan gagahnya si-langit biru. Sebab itu tak akan lama karna asap-asap pabrik para konglomerat itu akan menggantinya dengan abu-abu dan hitam.

Ah, kenapa kau menangis nak? Janganlah bersedih. Busungkan dadamu kuatkan hatimu karena inilah dunia, nak. Segala busuk dan rusak ini karena mahluk yang bernama ‘manusia’. Iya, nak ma-nu-sia. Mahluk yang bangga akan derajat dan pikirannya.

Jumat, 13 Februari 2015

Obrolan Tengah Wengi – Sebuah Tulisan Absurd sebagai Ikhtiar Melawan Lupa

Jember Tiga Belas Februari 2015 3:06 dini hari. Mataku masih saja tak mau dikatupkan, efek kopi yang ku tenggak hari ini mungkin. Seingatku hari ini dua gelas kopi sudah masuk di lambungku. Pertama, pagi tadi sebelum diriku ‘berurusan’ dengan birokrasi kampus untuk mengurusi penundaan pembayaran biaya kuliah. Lalu, yang kedua kalinya baru saja tandas sekitar sejam lalu sebelum tandasnya si-hudi menuju alam baka eh, salah maksudnya alam mimpinya. Ah, semoga dia memimpikan hal diharapkannya. Bermimpi tentang kegalauan dan segala tetek bengek jalan yang harus dia tempuh dengan ‘si-dia’ yang menurutnya bakal menemui ‘persimpangan’ yang takkan bisa dihindari, begitu kalau ndak salah. Tak tau berapa jam tadi kita bicara panjang lebar berbagai masalah mulai bahasan mengenai saya yang masih saja setia dengan yang namanya ‘lupa’. Ya, saya ndak paham kenapa saya mengidap ‘eSeMeS (Short Memory Syndrome)’. Yang saya ingat hanya dari saya SD dulu saya sering sekali lupa membawa perlengkapan sekolah, lupa kalau hari itu ada ulangan harian sampai hampir selalu lupa mengerjakan tugas. Akibatnya ya bisa ditebak, setiap ada siswa yang dihukum maju kedepan kelas karena tidak mengerjakan tugas, sosok saya hampir selalu muncul disana. Hal yang memalukan sebenarnya, tapi saya memilih untuk menceritakannya kini agar saya ingat suatu hari nanti. Seperti tagline blog yang beberapa hari lalu saya baca ‘saya pelupa maka saya menulis’ begitu katanya. Lalu, obrolan berpindah ke hmmm apa tadi yah? Ah, sial saya lupa lagi. Yang saya ingat kita membicarakan masalah karya, seperti apa sih sebenarnya karya itu?. Beberapa yang saya ingat lagi karya itu ya hasil alias buah dari pemikiran. Lalu, pemikiran yang seperti apa? Yah, tergantung karya seperti apa yang dihasilkan. Ibarat seorang seniman rupa, mereka dikatakan berkarya bila dia menghasilkan seni rupa, seperti desain, lukisan, gambar, sketsa dan lain sebagainya. Terus, bagaimana dengan petani dan nelayan? Apakah mereka juga tidak berkarya? Kalau dalam konteks ini ‘karya’ mereka ya apa yang mereka lakukan. Kalau nelayan ya melaut dengan keahliannya melihat arah angin kek, merajut jala, ataupun membuat perahu. Kalau mereka petani ya mereka mulai dari memilih benih yang bagus, menanam benih, mengairi lahan sawahnya, hingga bagaimana mereka memanen padi mereka.