Jumat, 10 November 2017

Persma dan Jalan Lain*)

Merujuk pada istilah-nya, Pers Mahasiswa (Persma) memiliki dua makna yang sama-sama potensial, yakni pers dan mahasiswa. Sebagai insan pers, Persma tak ubahnya seperti pers pada umumnya, ia mengemban tugas mulia sebagai penyambung lidah kaum tertindas. Persma hakikatnya memiliki esensi yang sama dengan gerakan mahasiswa kebanyakan, yakni mengawal demokrasi. Di sisi lain juga turut menjaga serta mengontrol jalannya sistem kekuasaan agar tercipta pemerintahan yang adil. Namun, yang menjadi pembeda bagi gerakan mahasiswa yang lain berangkat dari media penyampai berupa narasi sebagai sarana pergerakan Persma. Tentu dengan menyajikan berita bermutu, kritis, serta didukung independensi.

                Di era 90-an para aktivis Persma menggunakan lembaga ini sebagai kendaraan bersama untuk melawan rezim otoriter Orde Baru (Orba). Sejak saat itu Persma memasuki babak baru. Ia menjadi salah satu media penyampai polemik kerakyatan yang gahar. Isu yang dibawanya berisi bahasa khas kelas menengah yang meledak-ledak, tapi tetap menjunjung kaidah serta rambu kejurnalistikan. Sebagai kulminasinya, Persma juga berperan menjadi elemen yang turut andil menggulingkan rezim korup Soeharto di tahun ’98.

Kamis, 05 Januari 2017

Bagian Kedua

...

Manisku, mungkin aku tak segemilang sukab yang rela memburu dan menghadiahkan senja kepada kasihnya tercinta - Alina. Terlalu musykil bagiku mengerat senja, melipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah amplop lalu, mengirimkannya padamu. Aku tak mampu menjanjikan apapun manisku, selain apa-apa yang selalu kau lihat dan rasa setiap hari. Belakangan, akupun semakin mudah menyerah atas apa-apa yang harusnya kuperjuangkan dan pertahankan.

Terakhir, ingin kuteriakkan segala ocehan ini. Tapi, entah dengan cara bagaimana. Mungkin dalam hati saja. Biarkan kuhayati dirimu dengan sungguh. Kemudian, yang bisa aku lakukan tinggal berserah pada celah-celah ketakberdayaan. Sembari belajar untuk sungguh menerima. Lalu, berusaha untuk berbahagia dengan sebuah impian dan sebuah kejujuran. Semoga pesan ini benar sampai dengan utuh kepadamu, terutama hatimu manisku. Bersama harapan dan rasa yang membuncah. Entah bagaimana. Bahasaku tinggallah rasa.

Rabu, 04 Januari 2017

Bagian Pertama

Teruntuk Engkau, Manisku.

Yang hanya mampu aku pekikkan keras-keras di dalam sanubari,

Adakah engkau untuk sekelebat memikirkanku? Pada waktu-waktu yang rumpang untuk dikisahkan. Sekedar mengingat aku - laki yang dibalut sepi dan sering tertikam bayang masa silam.

Manisku,

yang hanya mampu kusebut dengan bibir bergetar dalam sela-sela doa.

Ketahuilah manisku, kuingin sesekali berdua di atas tanah lapang yang entah. Untuk kemudian bersama-sama menatap langit sembari memandangi senja. Menunggu surya yang perlahan-lahan tenggelam. Menikmati jingganya yang lamat-lamat memburam menuju temaram. Hanya berdua saja. Tidak sesuatupun akan kuijinkan untuk mengganggu, bahkan detak waktu harus rela mengalah. Mengalah sejenak hanya untuk engkau satu-satunya manisku..

..dan tentunya juga aku.

...

Senin, 26 Desember 2016

Dua Puluh Enam Desember

Teruntuk Adik Manisku,


Hari ke Dua Puluh Enam bulan ke-Dua Belas Masehi, kau mengenang kelahiranmu di dunia ini. PutuAyu Deashinta Putri Suardhita – menjadi hadiah terindah dunia sekaligus rasa syukur dua orang tua atas kehadiranmu.

Rumah Orange menjadi medium pertama kita bersua. Aku mengenalmu sebagai perempuan pembelajar dan haus akan hal baru. Seringkali aku dan kakak-kakakmu yang lain cukup kerepotan memuaskan dahaga ingin tahumu. Banyak hal yang sudah kita lalui – menggila hingga menggalau bersama-pun sudah. Tapi, di hari bahagiamu ini buang jauh semua galau, sedih dan gelisahmu adik manisku. Berbahagialah, nikmati detik tiap detik bergantinya masa usiamu.

...

Sabtu, 13 Agustus 2016

Efek Samping ‘Mantan’ *)

Belakangan saya dihantui serta menjadi biasa dengan kata ‘mantan’. Yah, mantan. Berawal dari obrolan bareng lalu akhirnya rajin di blow-up via medsos, tanpa ada yang menyepakati sebelumnya lalu si Sadam menyewa sepetak kecil tanah di halaman di salah satu perusahaan blog ternama dunia. Hasilnya ruang ini, menjadi ladang pelampiasan bagi para pria (setahuku masih belum ada wanita yang diajak nimbrung disini). Jadi, ruang yang anda kunjungi ini semacam penyalur hasrat dan birahi akan mantan.
           Tapi maaf saya tidak akan bicara tentang mantan kekasih, mantan istri, atau malah mantan suami disini. Bukan berlagak bodoh atau mencoba ‘murtad’. Saya sendiri hingga detik ini belum pernah punya yang namanya ‘mantan’. Wuiih, kelihatan laku sekali ya saya. Ah tidak, saya hanya mencari pembenaran untuk diri saya sendiri. (pikir sendiri maksud saya)

Sabtu, 21 Mei 2016

Bebal Menulis

Menulis…. Tulis..tulis..tulis… tapi saya percaya membaca menjadi yang lebih utama. Baca.. baca.. baca.. baca.. kita harus lebih banyak menjalani ritus membaca sebelum melakukan pekerjaan mulia nan suci bernama menulis. Saya masih berkeyakinan kalau menulis diawali niat untuk berusaha sedikit saja lebih lama dan lebih banyak membaca. Seakan menjadi sebab akibat, bagaimana kita bisa menulis jika tak sedikitpun memulai untuk terbiasa membaca. Apa yang akan kita tuliskan? Pengalaman pribadi. Oke, tapi bagaimana cara dan pengambilan sudut penceritaan juga tak mungkin serta-merta kita miliki begitu saja. Tiba-tiba wuss masuk ke otak dan pikiran kita macam wahyu iblis yang datang dari antah berantah.

Hal lain yang juga saya percaya terkait menulis, bahwa sekalipun orang memiliki kecerdasan diatas rata-rata tak menjamin dia bisa memainkan kata dengan ciamik. Jangankan memainkan kata, sekedar memilih dan menepatkan padanan kata saja mereka terengah-engah. Sialnya, mereka bangga. Jarang membaca, tak pandai memadu-padankan kata, hingga tak memahami ejaan yang benar lalu mereka bangga. Saya tak habis pikir. Tapi, mereka tetap bangga.

Senin, 18 April 2016

Harta Karun Kecil

Banyak hal dan benda-benda kecil yang remeh temeh berpotensi memunculkan kenangan yang tidak biasa. Lumrahnya, kenangan bisa dimunculkan karena barang tersebut merupakan pemberian seseorang yang spesial atau bisa karena momennya yang pas. Boleh jadi justru gabungan antara keduanya.


Saya tidak ingat betul kapan tepatnya tulisan ini dibuat. Yang saya ingat, kala itu Res menuliskan hal ini bukan karena kelegaan hatinya sebagai manusia. Mungkin. Boleh jadi sebagian motif dia menuliskan deskripsi ini saat dia bilang menemui kesulitan dalam memulai menulis, begitu kalau saya tak salah ingat. Lalu, Edho – dengan sigap memberikan arahan. Begini kalau tidak salah, “coba ae wes tulisen hal sing ono nang sekitarmu saiki” (coba saja tulis hal yang ada di sekitarmu sekarang).

Minggu, 10 April 2016

Terpaksa Ku Tuliskan*)

“ Kamu saya lihat dari dulu ya begini-begini saja, tak ada perubahan, tak ada perkembangan .

Ucapan tadi secara serampangan muncrat dari mulut salah satu kawan di warung kopi. Tentu, dialamatkan kepada saya. Kemudian tanpa ba-bi-bu, complain saya muntahkan. Lha, kok bisa? Berapa lama anda mengenal saya? Sejauh dan sedalam apa anda mengerti tentang saya? Lha kok berani-beraninya ber-statement macam babi begitu?.

Jika orang tua yang sudah memiliki keluarga, anak dan istrinya boleh jadi sebagai motivasi utama dalam setiap tindakannya. Bagaimana dia memberikan keamanan dan rasa nyaman untuk anggota keluarga lainnya. Ambil contoh lain, seseorang bisa menjadikan “calon gebetan” sebagai motivasi ter-luhurnya. Alasannya, dia ingin mendapat perhatian dari si-calon gebetan atau menginginkan si-calon gebetan tadi bersanding di sisinya. Ehm. Dia rela menempuh perjalanan jauh, kehujanan dan berpanas-panas hanya karena si-calon gebetan yang meminta. Anything for you-lah. 

Selasa, 05 April 2016

Tentang Aku, Kau dan (mungkin) Cerita Kita

Sudah sekitar enam tahun saya bersinggungan dan berjibaku bersama. Mulai dari “tak tahu apa-apa”, mencoba mengenal, sesekali mempelajari keseharian dan tingkah lakunya, hingga merasa butuh dan tak bisa jauh dengan berbagai alasan yang logis dan seringkali tanpa alasan. Saya sedikit meminjam ucapan salah seorang kawan yang dapat menggambarkan hal ini, “terpaksa, dipaksa, terbiasa lalu, kemudian suka”. Terpaksa melakukan sesuatu tanpa tahu alasan dan untuk apa, dipaksa mengenali, mengidentifikasi sekaligus mempelajari tanpa mengetahui jelas akan berakhir dimana. Hingga pada suatu titik menjadi ‘suka’. Menjadi selalu ‘iya’. Semua itu berjalan seolah tanpa terencana dan tak sepenuhnya disadari.  

     Tresna Jalaran Saka Kulina – mengutip salah satu pepatah Jawa yang memiliki arti bahwasannya cinta timbul akibat dari sebuah kebiasaan, menjadi klaim yang pantas dihadiahkan pada kondisi saya ini. Faktor lainnya yang juga cukup berperan adalah “kenyamanan”, pihak yang seringkali dibenci tapi tak jarang pula sulit untuk menyatakan pisah dengannya. Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk hitung-hitungan manusia biasa seperti saya. Bisa diibaratkan saya bertemu dengannya dalam kondisi hamil tua. Lalu, pada posisi sekarang jabang bayi tadi sudah tumbuh bersamanya hingga menjadi bocah yang aktif dan sedang lucu-lucunya.

Selasa, 22 Maret 2016

Membuka Tabir [Penindas] Pendidikan*

Kondisi pendidikan negeri ini penuh dengan segala problematika. Coba sejenak mempertanyakan seperti apa seharusnya pendidikan berjalan? Atau apa sesungguhnya pendidikan itu? Secara konseptual Paolo Freire, seorang tokoh sekaligus teoretikus pendidikan Brazil mengemukakan mengenai pendidikan kaum-kaum tertindas. Pada mulanya pendidikan menjadi 'alat' para penguasa untuk melegitimasi cengkeramannya di masyarakat. Namun, Freire berusaha untuk meruntuhkan dominasi kaum-kaum penindas dengan konsep pendidikan kaum tertindas. Disini Freire menawarkan konsep kedermawanan dan kemurahan hati. Pada konsepnya yang pertama Freire mengajak kaum tertindas untuk membuka tabir dunia penindasan. Kemudian jika tabir penindasan ini telah terbuka maka, Freire berpendapat tak akan ada lagi praktek-praktek penindasan di masyarakat.

   Filsafat  Freire  bertolak  dari kehidupan nyata, bahwa di dunia ini sebagian besar manusia menderita sedemikian rupa, sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain dengan cara-cara yang tidak adil, dan kelompok yang menikmati ini justru bagian minoritas umat manusia. Dilihat dari segi jumlah saja menunjukkan bahwa keadaan tersebut memperlihatkan kondisi yang tidak berimbang, tidak adil. Kondisi itu yang disebut Freire sebagai “situasi penindasan”.



Senin, 10 Agustus 2015

(Hampir) Surat Cinta

Dear Dirimu,

Kutulis bait-bait ini di sepetak ruang yang cukup luas dan sunyi. Sendiri. Di luar begitu tenang dan sepi, sangat sempurna. Bulanpun sudah mulai menua dan siap terlahir kembali dengan wajah baru. Tantri masih melantunkan Rock Never Dies dengan suaranya yang khas diiringi musik yang menghentak lantang.

Tidak satu hal pun yang langgeng disekeliling kita. Segala sesuatunya senantiasa bergerak, berubah. Tak terkecuali waktu. Karena hal itu, diriku punya dendam yang sangat kepada waktu yang pada akhirnya melahirkan anak bernama jarak. Entah, dari rahim yang mana ia terlahir. Sebaliknya aku ingin dia seharusnya tak pernah terlahir. Karena akhirnya harus begitu terasa menyiksa.Tapi satu hal, itu tak akan diriku alamatkan pula padamu.

Senin, 03 Agustus 2015

Mimpi Itu Tak Wajib (Memang)

Mimpi memang tak wajib, cuk. Sebab itu aku menyarankan untuk segera saja kau rampungkan itu skrip(sweet). Kalaulah kamu menolak tak jadi soal. Tapi, jangan terlalu lama juga mimpinya (apalagi sampai basah). Mimpilah sejenak, lalu mikir. Nah, sepertinya kamu mulai protes lagi. Yo ndak cuma mimpi dan mikir saja. Rumangsamu arep onani. Setidaknya rehat sejenak, ambil nafas, terus mikiro. Kamu sudah lama juga kan jadi mahasiswa, apalagi sekarang tinggal satu tugas saja yang harus kau rampungkan. Ya segera selesaikan!. Sampai disini pasti kau mulai mencak-mencak. Menganggap ini sebuah pledoi pribadiku. Lalu, kau mulai berfatwa dengan dasar ini-itu untuk sekedar meng-counter ocehan saya ini. Ah, kamu macam organ besar diluar sana yang hobi meracik fatwa buat urusan-urusan yang tak substantif. Sekali lagi saya hanya menjalankan peran sebagai kawan yang baik (setidaknya sampai detik ini). Saya hanya khawatir saja kalau nanti organ ini tetiba saja mengumumkan kalau mahasiswa yang selalu betah di kampus dan tak segera lulus kemudian dicap sebagai komoditas haram. Astaghfirullah! Na'uzubillah min zallik!

         Sekali lagi aku tekankan, mimpi memang tak wajib. Khususon  buatmu, merampungkan itu skrip(sweet) lebih utama cuk! dan juga insaallah barokah. Coba saja lagi kau gumuli itu teori-teori, kolom-kolom dan kalau perlu gumuli juga dosen pembimbingmu cuk, siapa tahu kamu bisa diluluskan dengan segera. Nah, setelah semua itu rampung baru bermimpilah lagi. Menikahi kakak batak berkacamata itu mungkin. Segera cari penghasilan tambahan mungkin. Sebab warung kopi ini tak cukup menjanjikan kenyamanan, apalagi kekayaan. 

Kamis, 25 Juni 2015

Seonggok Kisah Para Pencari Takjil

Banyak hal di dunia ini yang luput dari perkiraan dan rencana. Seperti sore ini, dua pegawai CafeCampus (saya dan Hudi Darmawan) hanya berniat untuk menjadi PPT (Para Pencari Takjil - ini istilah dari kawan saya blora (Ryan Yogy). Kita berangkat dari sekretariat Lpme Ecpose sekitar pukul 16.00. Masjid raya Al-Baitul Amien menjadi tujuan kita. Setibanya disana seperti umumnya acara-acara menjelang berbuka-kajian agama dari suara seorang ustad menggema. Saya tak ingat benar apa isi cerasmahnya.

Singkat kisah setelah makan dan berbuka, saya dan Hudi tak segera pulang. Ngopi disek di.. Tanpa ba-bi-bu saya sepakat. bukan cafe atau warung kopi, kita hanya ngopi di pinggir jalan membeli dari seorang pria berusia 52 tahun, Syamsuri namanya. Dia berdagang disana mulai pukul 5 sore hingga 9 malam. Dia berkisah sekelumit tentang keluarganya. Pak Syamsuri ini anak ke lima dari enam bersaudara. Dari perawakannya beliau nampak sehat wal afiat. Tapi, ternyata sudah lama beliau mengidap stroke dan ginjal. Dari penuturannya dia sudah terbiasa bekerja. Sejak kelas dua sekolah dasar dia sudah bekerja menjadi pandai besi. Setelah tamat sekolah dasar dia sempat merasakan sebagai ball boy di lapangan tenis, saya lupa menanyakan dimana persisnya. Tak sampai disitu saja, pria yang bertempat tinggal di belakang hotel kusuma ini juga sempat bekerja di bank BCA, mulai sebagai Office Boy, bagian ekspedisi hingga bagian arsip. 

Senin, 15 Juni 2015

Kebangkitan Pendidikan, Sebuah Perenungan

Perubahan dan perkembangan selalu terjadi dari waktu ke waktu. Keadaan ini secara tidak langsung “memaksa” manusia mencari, kemudian berpikir untuk menyongsong tiap perubahan yang terjadi. Banyak cara yang dilakukan, salah satu cara manusia dalam merespon setiap perubahan di lingkungan yang dihadapinya adalah melalui pendidikan.

John Dewey, salah satu filsuf pengusung pragmatisme menyatakan bahwa pendidikan merupakan sebuah proses pembentukan kemampuan dasar menyangkut daya pikir (intelektual) dan daya rasa (emosi) manusia (Arifin, 1987:1). Sedangkan, filsuf termashur Paulo Freire menilai bahwa pendidikan adalah cara yang digunakan untuk menimbulkan rasa percaya pada kemampuan diri sendiri (self affirmation) yang tujuannya menghasilkan kemerdekaan pribadi.

Kamis, 21 Mei 2015

20 Mei 2015

Seharusnya kemarin merupakan hari dimana kelahiranmu diperingati. Kerasnya hidup sudah kau lalui dengan berpayah-payah, itu bisa terlihat dari uban yang semakin banyak dibanding rambutmu yang masih hitam. Keriput halus juga tak mau kalah berlomba untuk menghiasi wajahmu. Sorot matamu juga tak setajam dulu, bahkan matamu harus menyerah pada alat buatan manusia. Tapi satu hal yang tidak berubah, caramu dalam memandang hidup. Bagaimana dirimu menilai kehidupan dan segala tetek bengeknya. Keras watakmu membungkus kelembutan lain yang teramat sangat. Caramu melindungi orang terdekat, yang sering kali disalah artikan. Tapi, seperti kata sastrawan edan Sujiwo Tejo apa yang tak disalah artikan di negeri ini, kau tetap tak peduli. Kau, yang masih saja tak mau menyerah pada waktu. Kau yang selalu tegak berdiri gagah sebagai tumpuan banyak orang yang mungkin belum paham bagaimana kerasnya kehidupan. Ini tentang kau yang selalu saja menempuh cara yang tak bisa dinalar kebanyakan orang awam. Kau gila, mungkin. Atau kita semua yang gila?. Yang selalu saja gagal mengintepretasi maksud dan jalan pikiranmu.

Tapi, apa yang kemudian kau lakukan. Kau tunjukkan pada semua, pada dunia yang kau injak bahwa ini jalan hidup yang akhirnya membawamu seperti sekarang. Tepikan bagaimana kesulitan dalam ekonomi yang terus saja masih merongrongmu dan orang sekitarmu. Singkirkan bagaimana orang terdekatmu, orang yang menjadi tumpuanmu begitu sulit diatur, keras kepala. Dunia telah menempamu, menjadikanmu tangguh. Ah bukan, jikalau ada kata yang pantas menggantikan kata ‘tangguh’ seyogyanya itu pantas tersemat padamu. Tepikan sekejap bahwa kau begitu ‘gila’ dalam bekerja hanya karena orang-orang yang kau anggap ‘wajib’ engkau perjuangkan. Karena kau sudah berjanji sebelumnya. Janji yang tak layak untuk dikangkangi dan diganti dengan apapun.

Rabu, 13 Mei 2015

Kopi ?


Minggu petang, ketika intensitas hujan sedang tinggi-tingginya. Dua insan sedang terburu-buru masuk ke kedai kopi yang nampak masih lengang. Mereka duduk di sebuah meja di bagian tengah kedai. Si pria memberi kode pada pelayan untuk memesan menu. Pelayan memberikan daftar menu pada dua sejoli  yang kedinginan dan basah kuyup tersebut. Si Wanita segera menyambar daftar menu sekaligus secarik kertas kecil tempat mereka menulis pesanan. “Hot Cappucino”, segera dia menulis pesanannya. ”Dirimu pesen apa, nda?”, “seperti biasa? Kopi hitam? Pahit kan?”, memberondong lelakinya yang masih mengeringkan rambutnya akibat kehujanan tadi. Si-Pria menjawab pendek, “Oke..”

Lima menit berselang, dua minuman tersaji manis di hadapan dua sejoli ini. Dua buah cangkir bening dengan isi yang berbeda. Kopi hitam dan cappucino panas menguarkan aroma berbeda menyatu bersama aroma tanah basah yang diguyur hujan. “Kenapa tiap ngopi mesti pesen kopi hitam? Pait lagi?”, “Sekali-sekali gantilah nda..” berondong si-wanita sambil memajukan bibirnya tanda sedikit keberatan dengan rutinitas belahan jiwanya. “Kopi hitam itu kopi yang paling tinggi kadar kafeinnya” ,jawab si-pria sambil sedetik kemudian menyesap kopi hitam pesanannya. “nah, maka dari itu, kan kafein ndak baik buat kesehatan”, sergah si wanita. “Ndak baik buat tubuhmu, liat tubuh kurus gitu”, belum selesai si-wanita bicara, si-pria memotong “tapi kamu mau kan sama yang kurus begini?”, kemudian tawa mereka pecah ditelan hujan yang semakin deras. “Tapi, dirimu ndak tahu kan sebenarnya kafein di kopi itu banyak manfaatnya loh buat tubuh”. “Alah, itu kan cuma alibimu aja sebagai penggila kopi, pembenaranmu”. “Ini serius, hmmm… sebentar aku ingat-ingat dulu. Kafein itu punya efek memperbaiki suasana hati, bisa meningkatkan daya ingat, trus bisa meredakan migrain, membuat lebih kita awas, bahkan bisa mengurangi stress dan buat kita lebih santai loh”, jawab si pria dengan bersemangat. Si-Wanita hanya cekikikan sambil mulai meminum hot cappucino pesanannya. Dalam hatinya ada sedikit geli dan rasa heran, dapat darimana pengetahuan macam begini. Yang dia tahu, setiap hari belahan hatinya ini tak pernah lepas dari kopi hitam.

Selasa, 12 Mei 2015

Ketika Kopi Tak Lagi Panjang Berkisah

Malam ini lidah mulai meronta minta berjumpa dengan kopi. Eh, sialnya kepala juga mulai pusing karena minuman hitam ini juga sudah lama tak saya jamah, mungkin. Kemudian saya putuskan segera meluncur ke salah satu warung di daerah kampus Universitas Jember. Setiba disana saya pesan minuman favorit saya, segelas Kopi Hitam. Beberapa menit kemudian pesanan saya datang. Sambil duduk menunggu minuman saya mulai turun suhunya, saya memperhatikan sesosok lelaki duduk sendirian di seberang tempat saya berada kini. Matanya masih menerawang dengan tatapan kosong, itu yang saya baca dari raut wajahnya kini. Secangkir kopi yang masih kemebul teronggok di hadapannya. Sama sekali belum ia sentuh, apalagi ia sesap. Ia mulai melepas jaket hitam yang sedari tadi membungkus tubuhnya yang kurus kering. Sedetik kemudian ia mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel yang dibawanya. Sebuah kotak pensil berwarna hitam dengan buku gambar yang sudah tampak lusuh mengikuti sesudahnya.

Dia hanya sendiri. Duduk selonjoran dengan santai. Sedetik kemudian dia mulai keluarkan sebatang rokok, setahuku itu rokok pertama yang ia ambil dari kotaknya malam ini, sebab beberapa detik lalu saya juga perhatikan dia sedang membuka pembungkus plastik dari kotak rokok yang ia bawa. Ia gapit gulungan tembakau tadi diantara bibirnya, kemudian mulai menyalakannya. Sedetik kemudian asap putih hasil pembakaran batang tembakau tadi melayang, menyatu bersama udara disekitarnya. Bersamaan dengan itu, ia mulai mengadu pensil dengan lembaran buku yang dia keluarkan tadi. Sejenak saya berpikir, ah aneh sekali orang ini ngopi kok sendirian. Lalu, saya tinggalkan dia untuk ngobrol bersama kawan-kawan saya yang baru saja tiba menyusul.

Senin, 11 Mei 2015

Ngopi Tak Melulu Kopi.

“Ayok ngopi, rek!”

Kopi. Yah, kopi - minuman hitam pekat yang manis-manis pahit itu. Apa yang istimewa dari secangkir kopi? Mungkin, bagi yang tidak suka minuman ini tak ada yang istimewa. Sebenarnya, memang tidak terlalu istimewa minuman hitam pekat ini. Yang jadi istimewa bukan sekedar di minuman kopi itu sendiri, tapi lebih ke ngopi-nya. Ngopi? Ya, Ngopi lebih mengarah pada sebuah ‘aktivitas’ yang mengarah pada proses dialektika ditemani secangkir kopi. Lalu, kalau ada yang ndak suka ngopi berarti ndak bisa ikutan ngopi dong?. Nah, woles dulu, disitulah ‘cair’-nya ngopi, para pehobi ngopi tak pernah benar-benar membatasi sandingan apa yang harus dihadirkan dalam dimensi ngopi tadi. Mau ngopi sambil minum kopi kek, mau sambil nge-jus kek, atau bahkan tak minum apapun serasa baik-baik saja.

Coba bayangkan saja, agenda ngopi sudah jadi semacam kewajiban hampir saya lakukan di setiap malam. Mungkin, menurut pandangan sebagian orang kegiatan ini (baca:ngopi) merupakan sebuah kesia-siaan. Tapi, dari kopi banyak cerita. Setidaknya itu yang sering saya rasakan. Banyak ilmu-ilmu tentang bagaimana kehidupan ini harus dijalani seringkali saya temukan dalam forum-forum macam begini. Forum dengan duduk bersila diatas trotoar dengan beralaskan sandal, bersandingkan secangkir kopi bersama seorang kawan membicarakan tentang hidup dan kehidupanpun jadi. Obrolan bisa mengalir kearah yang tak pernah disiapkan dan direncanakan sebelumnya. Ngopi  ya ngopi sajalah. Tak perlu mempertanyakan ngapain nanti disana (forum ngopi)? Ngobrol apa disana? Setidaknya itu yang sempat saya tangkap dari kawan-kawan muda saya belakangan.

Jumat, 08 Mei 2015

Secangkir Nostalgi, Setangkup Harap


            “ Oh, aku gak mau jadi pengecut......”

Alkisah, tersebutlah di sebuah wilayah yang tak ada yang berani mengungkap apa nama dan dimana keberadaan daerah tersebut. Hari itu senja mulai berarak merambat, menggantikan siang yang mulai menua. Dua sosok manusia terjebak di satu ruang kubus, tak sepatah katapun, apalagi makna. Hanya saling berdampingan dan menghadap dunia maya masing-masing. Salah seorang dari mereka sudah asyik sedari tadi bercakap via dunia maya dengan seseorang yang belum seutuhnya dia kenal.

Kawan yang sedari tadi sama-sama tenggelam di dunia maya-pun mencoba mencuri tahu. Aha, dia mulai mencoba masuk ke obrolan dua insan tak sungguh-sungguh  saling kenal tadi. Rupanya sosok kedua ini lebih massif dalam hal melakukan pendekatan dengan sosok asing di dunia maya tadi. Setelahnya, segera saja dia mengajak sosok tak terejawantahkan tadi untuk kopi darat. Tak lupa, mengajak serta kawannya yang lebih dulu sudah berinteraksi secara maya tadi.

Sabtu, 28 Maret 2015

Terus Saja Mencari, Itu Sudah Cukup

Kamu tahu? Banyak hal di dunia ini yang masih saja tak bisa diungkapkan dengan kata, bahkan untuk memberi hal-hal tersebut sebuah nama menjadi hal yang sangat jauh untuk bisa digapai. Kita manusia hanya bisa kemudian memberinya sebutan sebagai enigma, misteri. Kita manusia juga terkadang terlalu congkak bahkan seringkali lancang untuk mencari-cari sesuatu dibalik sesuatu itu sendiri. Kita terlampau keras kepala dengan membenarkan hal ini-itu secara serampangan. Tapi, bukankah itu mengasyikkan? Kita bergumul dengan ketidaktahuan lalu mencari tahu, hingga seringkali di penghujung pencarian kita harus mau mengakui yah,ini sudah cukup. Namun, sekali lagi tak banyak orang yang sudah mencapai titik tersebut, seringkali kita akhirnya harus mengatakan cukup padahal tak banyak yang sudah kita lakukan. Kalau, kata teman ngopi saya si-Hudi sih terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Lalu, bagaimana kita seharusnya bersikap atas hal ini? Saya rasa sederhana saja, kita sebagai manusia salah satu tugasnya adalah mencari. Yah, mencari. Cukuplah kita asyik dalam mencari tanpa harus kita menggebu mematok hasil supaya kita bertemu dengan yang namanya ‘tahu’. Klise. Memang, bukankah hidup dan kehidupan ini terlampau klise, bahkan untuk sekedar dijelaskan apa kehidupan itu sendiri. Mungkin kita perlu sekedar meluangkan waktu untuk menonton Dora The Explorer. Acara itu terlampau kekanak-kanakan, sekilas memang tampak seperti itu. Tapi, saya pernah mendengar kita berlu mencari gejala di dalam jelaga. Disini bukan tentang tayangan yang terlampau kekanak-kanakan, tapi ini soal pencarian dan keteguhan hati untuk tak sekedar berkata ‘sudah cukup’ padahal kita tak banyak melakukan apa-apa. Ini soal seberapa jauh keseriusan kita untuk tetap teguh dalam proses mencari itu sendiri.